Saat Gerindra-PKS Seolah Tak Terima Demokrat Dekat Dengan Jokowi


Partai Demokrat (PD) memberi sinyal akan merapat ke petahana Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019. Partai Gerindra pun tampak 'panas' lalu memberi sejumlah kritik terhadap dinamika terbaru itu.

Sinyal dukungan Demokrat ke Jokowi disampaikan dalam pembukaan Rapimnas mereka, Sabtu (10/3). Saat itu Presiden Jokowi turut hadir. Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyatakan langsung siap mendukung Jokowi.

"Jika Allah menakdirkan, sangat bisa PD berjuang bersama Bapak," kata SBY di hadapan Jokowi dalam Rapimnas PD di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3).

Tak mau kalah, Jokowi balas memberi sinyal. Saat memberikan sambutan di depan SBY, Jokowi menyatakan dirinya adalah seorang Demokrat.

"Artinya, saya dan Pak SBY ini bedanya tipis banget. Kalau saya seorang demokrat, nah kalau Pak SBY tambah satu, Ketua Partai Demokrat. Jadi bedanya tipis sekali," ujar Jokowi tersenyum.

Kehadiran Jokowi di Rapimnas Demokrat disambut baik. Apalagi partai berlambang bintang mercy itu digadang-gadang menawarkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi cawapres bagi Jokowi. PDIP juga memberi respons yang baik.

"Ada daftar panjang (long-list), ada daftar pendek (short-list), dan ada daftar prioritas (priority list). Daftar panjang berisi nama-nama yang memenuhi kriteria umum. Daftar pendek memenuhi kriteria umum dan spesifik. Saya menduga nama AHY masuk daftar pendek," sebut Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno mengomentari soal kabar AHY menjadi kandidat cawapres Jokowi.

Hubungan Demokrat dan PDIP yang mulai membaik di era Jokowi ini menuai respons dari Gerindra dan kawan oposisinya, PKS. Pernyataan kedua elite partai itu seolah tak mau terima Demokrat dekat dengan Jokowi.

Wasekjen Gerindra Andre Rosiade menyebut SBY dan Jokowi sedang bermain drama. Dia menyatakan ini saat memberi komentar soal interaksi Jokowi dan SBY di Rapimnas Demokrat.

"Kita memang melihat bahwa dalam acara Rapimnas PD dari Sabtu-Minggu, dua belah pihak memberikan sinyal untuk ingin bekerja sama, baik Pak Jokowi maupun Pak SBY, tapi itu kan drama di depan panggung," ujar Andre, Senin (12/3).

Menurut dia, interaksi Jokowi dan SBY belum tentu terkait dengan koalisi. Andre mengatakan dukungan Demokrat untuk Jokowi juga harus dapat 'lampu hijau' dari Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang selama ini terlihat 'dingin' kepada SBY.

"Soal koalisi, ini kan bukan semata-mata Pak Jokowi saja yang menentukan. Ada peran PDIP sebagai pengusung utama dan juga peran Ibu Mega yang menentukan siapa cawapres Jokowi," sebutnya.

Gerindra pun masih mencoba merayu Partai Demokrat untuk membantu mereka memenangkan sang ketum, Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Rayuan tersebut dilancarkan karena Gerindra menganggap Demokrat belum punya sikap tegas untuk pilpres mendatang.

"Yang pasti, Gerindra membuka diri untuk segera bergabungnya Demokrat dan partai lain," kata Andre.

Tak terima 'diserang' Gerindra, Demokrat pun balas melempar peluru. Wasekjen PD Rachland Nashidik mengatakan tak ada jaminan Prabowo akan menang di Pilpres mengingat sejarah pencapresannya.

"Saya kira itu bagi Pak Prabowo adalah pilihan rasional dan menguntungkan. Dengan segala hormat, adalah fakta Pak Prabowo tidak pernah menang dalam Pilpres," tukas Rachland.

Bukan hanya Gerindra yang memberi kritik melihat sinyal Demokrat yang merapat ke kubu Jokowi. PKS pun menyebut Demokrat sedang bermain tiga kaki.

"Demokrat dengan rapimnas kemarin menurut saya masih tetap mendua peluang... mentiga bahkan. Peluang beliau buat poros ketiga besar, peluang mendukung Jokowi dengan catatan AHY masuk, besar. Peluang gabung Pak Prabowo ada," ungkap Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, Senin (12/3).

Menurut Mardani, sikap PD di rapimnas kemarin hanyalah upaya penyusunan strategi Pilpres 2019. Belum ada sikap konkret yang diambil PD dalam rapimnas kemarin.

"Semua partai sedang menyusun strategi masuk kendaraan besar pilpres," ucapnya.

Demokrat langsung kembali angkat bicara soal pernyataan PKS. Meski mengaku masih melirik PKS, Demokrat mengakui punya pengalaman kurang enak dengan PKS. Pengalaman tersebut terjadi di Pilgub Jabar di mana Demokrat ditinggalkan PKS terkait pengusungan Deddy Mizwar.

"Saya bilang tertarik dalam arti melirik. Tapi untuk memulai langkah, saya pikir-pikir dulu. Berdasar pengalaman, PKS ini kurang setia. Tapi tentu selalu ada kesempatan kedua bagi siapapun," kata Wasekjen Demokrat Rachland Nashidik. [detik.com]