Rommy: Utusan Prabowo Sempat Temui Jokowi Tanya Posisi Cawapres


Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) mengungkap adanya utusan Ketum Gerindra Prabowo Subianto yang mendatangi Presiden Joko Widodo. Utusan itu menanyakan soal kepastian apakah Prabowo akan dipilih sebagai Cawapres Jokowi di Pilpres 2019.

"Utusan Prabowo. Saya nggak bisa sebut. Intinya orang itu diutus untuk menanyakan kemungkinan Prabowo digandeng oleh pak Jokowi," ungkap Rommy saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (14/4/2018) malam.

Rommy hanya menyebut, utusan itu merupakan tokoh yang langsung dikirim oleh Prabowo, bukan lewat Partai Gerindra. Namun dia tak bersedia menyebut siapa nama utusan itu.

"(Pertemuan) 2 pekan lalu. Saya tidak bisa menjawab di mana," sebutnya.

Apa yang ditanyakan utusan Prabowo ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Jokowi dan Prabowo pada November 2017 lalu. Dalam kesempatan itu memang dibahas kemungkinan Prabowo menjadi cawapres bagi Jokowi di Pilpres 2019.

"Statement dari internal Gerindra bahwa Pak Jokowi mengiming-imingi Pak Prabowo untuk jadi cawapresnya dengan sejumlah imbalan adalah tidak benar," ungkap Sekjen PPP Arsul Sani dihubungi terpisah.

"Yang terjadi sebenarnya adalah antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo sebenarnya terus berkomunikasi terkait berbagai persoalan kebangsaan kita baik dengan bertemu langsung maupun melalui orang kepercayaan yang ditunjuk oleh keduanya," sambungnya.

Saat komunikasi antara pihak penghubung ini, kata Arsul, muncul pemikiran soal duet Jokowi-Prabowo. Harapannya pun agar Pilpres 2019 lebih dingin dibanding 2014.

"Komunikasi ini terus berlangsung, bahkan sampai sekitar 2 mingguan lalu. Namun apakah yang memulai wacana tersebut adalah yang dari Pak Jokowi atau Pak Prabowo maka tidak begitu jelas," urainya.

"Sebenarnya yang dibahas itu ya antara Pak Prabowo tetap maju sendiri atau wacana di atas. Kami di PPP ambil hikmahnya adalah pada level Pak Jokowi dan Pak Prabowo nya sendiri ada ikhtiar membangun komunikasi politik yang baik sehingga kalaupun harus berkontestasi langsung tidak menjadikan keterpecahbelahan atau segregasi masyarakat yang lebih parah," sambung Arsul.

Hanya saja belum jelas apakah dari pertemuan 2 minggu lalu menemukan hasil signifikan. Sebab seperti diketahui, Prabowo sudah menyatakan kesiapannya maju sebagai capres di 2019 saat Rakornas Gerindra pada Rabu (11/4) lalu.

Ada info yang menyatakan belum ada jawaban dari pihak Jokowi, sebab ada sejumlah partai pendukung Jokowi yang tidak menerima wacana itu. Hingga akhirnya deadline Prabowo menyatakan sikap datanglah sudah.

Arsul pun lebih menyoroti soal sikap elite-elite partai, baik di kubu Jokowi maupun kubu Prabowo, yang melempar isu panas tanpa tahu kebenarannya.

"Persoalan kemudian timbul karena ada orang-orang termasuk internal partai yang tidak tahu info sebenarnya tapi melempar tuduhan seperti tuduhan Pak Jokowi membujuk Pak Prabowo supaya mau jadi cawapres dengan iming-iming. Ini kemudian ditafsirkan bahwa Pak Jokowi khawatir berkontestasi kembali dengan Pak Prabowo," tutup Arsul. [detik.com]