Dua Kali Absen Deklarasi, Prabowo Ragu Nyapres?


Internal Gerindra dari daerah sampai pusat mendorong Ketum Prabowo Subianto untuk segera mendeklarasikan diri sebagai capres 2019. Namun saat didaulat lewat deklarasi, Prabowo justru tak hadir. Kenapa?

Pada Minggu (11/3) kemarin DPD Gerindra DKI Jakarta mendeklarasikan Prabowo Subianto jadi capres Gerindra. Deklarasi ini dibacakan Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, Muhammad Taufik di Lapangan Arcici, Rawasari, Jakarta Pusat.

Namun sang jagoan tak datang ke acara ini, diwakilkan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Sehari kemudian pada Senin (12/4) giliran pengurus 34 DPD Gerindra mendeklarasikan Prabowo sebagai capres di Hotel DoubleTree Cikini, Jakarta Pusat. Lagi-lagi tak ada Prabowo di deklarasi ini, hanya ada pengurus DPD Gerindra dan beberapa pengurus DPP seperti Wasekjen Andre Rosiade, Ketua DPP Habiburokhman, dan Ketua OKK Gerindra Prasetyo Hadi.
Baca juga: 34 DPD Gerindra Dorong Prabowo Jadi Capres 2019

Kenapa sampai dua kali acara deklarasi capres tak dihadiri Prabowo? Apakah Prabowo masih ragu atau ada pertimbangan lain sehingga ia tak mau buru-buru mendeklarasikan diri sendiri sebagai capres?

Petinggi Gerindra sendiri melihat Prabowo tengah mencermati sebelum mengambil langkah penting itu. "Pak Prabowo sekarang lagi berkonsentrasi dan merenung. Seperti waktu itu di acara HUT Gerindra beliau sudah berpidato, bahwa beliau akan melihat betul dukungan masyarakat, parpol koalisi, sebelum menyatakan diri untuk maju," kata Andre kepada wartawan usai acara deklarasi DPD Gerindra Senin (12/3/2018).

Ia meyakini Prabowo sebenarnya sudah yakin nyapres. Hanya perlu waktu sebelum mendeklarasikan diri. "Kalau soal keyakinan, kader Gerindra sudah sangat yakin mendukung Prabowo. Kami yakin, Pak Prabowo juga yakin. Tapi beliau hanya menunggu waktu yang pas untuk mendeklarasikan diri," sebut Andre.

Meski Gerindra meyakini Prabowo 100% yakin menatap Pilpres 2019, namun ketidakhadiran Prabowo di dua kali deklarasi capres itu jadi catatan politik menarik. Bahkan Partai Demokrat yang sedang terlibat saling sindir dengan Gerindra menyebut cukup berat bagi Prabowo menghadapi Pilpres 2019 nanti. Bahkan Wasekjen PD Rachlan Nashidik menyarankan Prabowo jadi cawapres Jokowi saja.

"Jangan takut, saya persilakan bila Pak Prabowo mau jadi cawapres Jokowi. Saya kira itu bagi Pak Prabowo adalah pilihan rasional dan menguntungkan. Dengan segala hormat, adalah fakta Pak Prabowo tidak pernah menang dalam Pilpres," sindir Rachland, saat dikonfirmasi wartawan.

"Tidak ada jaminan beliau akan menang dalam Pemilu 2019. Menjadi cawapres Jokowi adalah kesempatan terakhir beliau. Pak Prabowo makin sepuh. Kami mengalah saja," imbuh orang dekat Agus Harimurti Yudhoyono itu saat Pilgub DKI 2017 lalu.

Sindiran yang terkesan meremehkan Prabowo tak hanya datang datang dari PD. Mantan Kepala Staf Kostrad Majyen (Purn) Kivlan Zen yang mendukung eks Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo maju sebagai capres menyebut modal logistik Prabowo kalah.

"Perkiraan saya, nggak usah disebutkanlah, Gatot uangnya banyak, melebihi dari uangnya Prabowo," ujar Kivlan setelah menghadiri acara silaturahmi tokoh nasional menuju Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Kamis (8/3/2018).

"Saya tahu (Gatot punya banyak uang), kalau Gatot dipilih bagus juga, sudah terang dia ke mana orientasinya," sambung Kivlan menegaskan dukungan ke Gatot.

Lantas akankah Prabowo menjawab suara miring itu dengan deklarasi capres? atau Prabowo malah jadi king maker memunculkan capres alternatif penantang Jokowi?. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel