PSI Nilai Gatot Nurmantyo Belum Bisa Saingi Jokowi di Pilpres

Foto : REUTERS

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni menilai mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo belum menjadi penantang sepadan Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019.

Menurut Antoni berdasarkan hasil beberapa lembaga survei, penantang terkuat Jokowi masih dipegang Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

"Beliau (Gatot) masih di angka 2-3 persen sama dengan Mas Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), sama dengan yang lain. Jadi tidak spesial ya dalam konteks kontestasi itu," kata Antoni di Kantor DPP PSI, Jakarta, Sabtu (10/3).

Dalam hasil survei yang dirilis sejumlah lembaga, elektabilitas Gatot saat ini masih rendah bila dibandingkan dengan Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Gatot hanya memiliki elektabilitas 5,5 persen dalam survei yang dirilis Median, Februari lalu, terpaut jauh dari Jokowi dan Prabowo yang masing-masing mencapai angka 35 persen dan 21,2 persen.

Sementara berdasarkan survei LSI Denny JA pada Desember 2017, elektabilitas Gatot sebesar 7,5 persen, di bawah elektabilitas Jokowi 38,4 persen, dan Prabowo 24,6 persen.

Meski demikian, Antoni mempersilakan jika Gatot ingin maju sebagai bakal calon presiden. Begitu pun jika Gatot ingin menjadi calon pendamping Jokowi walaupun itu diserahkan sepenuhnya kepada mantan Wali Kota Solo tersebut.

Cawapres Kalangan Muda

Antoni mengatakan saat ini PSI tengah menginventarisasi sosok bakal calon pendamping Jokowi. Bakal calon wakil Jokowi diharapkan berasal dari kalangan muda untuk kepentingan regenerasi di periode selanjutnya.

Beberapa nama yang mewakili itu kata dia seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy, Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Dengan memilih pendamping yang lebih muda, kata dia, dapat membantu proses keberlanjutan pembangunan yang tengah dilakukan pemerintahan Jokowi saat ini.

Namun, PSI menyerahkan kepada Jokowi untuk menentukan pembantu paling dekat presiden tersebut.

"Maksud saya usia tidak jadi faktor krusial di sana ya, tapi kenyamanan Pak Presiden sebagai partnernya. Tentu Pak Presiden sebagai manusia punya sisi-sisi yang harus ditambal pembantunya," katanya.

Selain itu, Antoni menyambut baik rencana terbentuknya potensi poros ketiga di pilpres 2019. Poros baru di luar Jokowi dan Prabowo itu dinilai dapat mengurangi tensi tinggi yang berpotensi muncul jika hanya memunculkan dua calon seperti di Pilpres 2014.

"Saya berharap dengan ada tiga calon mungkin tensi itu lebih rileks, lebih kendur gitu ya dan yang tidak kalah penting ini akan memotivasi koalisi pendukung Jokowi, walaupun ada tiga calon tapi kita harus bisa menang satu putaran 50 persen plus 1," katanya. [cnnindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel