Jokowi adalah Arsitek Plot Twist

Foto: Yudhistira Amran/kumpara

Jokowi adalah politikus yang tak mudah ditebak. Jejak rekamnya berkata demikian. Semua prediksi soal skenario politiknya kerap runtuh di menit terakhir.

Dalam dunia sastra, Jokowi ibarat penulis yang lihai menciptakan cerita yang plot twist. Pembaca yang menyimak kisahnya ternganga lantaran ending ceritanya tak terduga. Sebuah bangunan cerita yang mampu membuat gemas pembacanya.
Tak percaya? mari kita simak dalam peristiwa deklarasi capres-cawapres kemarin.
"Nanti deklarasi pukul 17.00 atau pukul 18.00 WIB," kata Mahfud MD optimistis saat ditanyai awak media, Kamis (9/8) sore.

Pernyataan Mahfud itu kurang dari dua jam sebelum Jokowi mendeklarasikan cawapres yang diusungnya. Namun bukan Mahfud, Jokowi justru meminang Ma’ruf Amin sebagai sosok yang akan menemaninya di Pilpres 2019.

Keputusan penting yang diambil Jokowi di menit-menit terakhir itu memang sulit dipercaya. Bayangkan saja, satu hari sebelum deklarasi, Rabu (8/8), Mahfud sudah mengurus segala macam tetek bengek untuk menjadi cawapres.

Rabu itu, Mahfud sudah mengurus surat keterangan tak pernah menjadi terpidana di Pengadilan Negeri Sleman. Rabu itu pula dia sudah mengirimkan curiculum vitae (CV) ke Istana. Dan ya, Rabu itu pula dia sudah mengukur baju agar bisa selaras dengan pakaian yang dikenakan Jokowi.

Sekali lagi, Rabu itu pula inisial cawapres Jokowi diumumkan. "Depannya pakai 'M' pokoknya," kata Jokowi sambil tertawa di Istana Merdeka.

Tidak heran jika Kamis itu Mahfud begitu optimistis. Kala itu wajahnya begitu semringah dan yakin bahwa inisial M itu adalah dirinya. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu hanya tinggal menunggu keputusan resmi.

Dia pun berada di Restoran Tesate, Menteng, Jakarta Pusat yang dekat dengan lokasi deklarasi cawapres Jokowi di Restoran Plataran, Menteng. Pertimbangannya, agar Mahmud tak perlu jauh-jauh ketika namanya diumumkan.

Namun apa daya, parpol koalisi pengusung Jokowi rupanya enggan meminang Mahfud. “Saya tidak kecewa, tapi kaget saja karena sudah diminta mempersiapkan diri, bahkan sudah agak detail," terang Mahfud.

Berkaca pada Twist Jokowi dan Maruarar Sirait

Mahfud MD jelas bukan satu-satunya tokoh yang narasinya dibuat twist oleh Jokowi. Politikus PDI-P Maruarar Sirait pun pernah menjadi 'tokoh' dalam cerita 'milik' Jokowi tersebut.

Semua bermula kala Jokowi-JK terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden di Pilpres 2014. Pada saat mengumumkan nama-nama menteri untuk mengisi kabinet, nama Ara (sapaan Maruarar) santer disebut akan mengisi kursi Menkominfo.

Kabar itu kian diperkuat oleh sebuah dokumen yang diperoleh wartawan. Dalam dokumen itu, nama Ara jelas-jelas terpampang akan mengisi posisi Menkominfo.
Tak heran jika Ara juga begitu optimistis bahwa dia akan menjadi menteri. Ketua DPP PDI-P itu sangat yakin bahwa pada 26 Oktober 2014, akan dilantik di depan halaman Istana.

Saat hari pelantikan itu tiba, Ara pun dengan santainya datang ke Istana. Dia mengenakan kemeja putih layaknya menteri-menteri lain yang dilantik saat itu. Namun kenyataan justru berkata lain, posisi itu rupanya ditempati oleh Rudiantara.

Melihat Ara yang sudah datang, Jokowi pun merasa tak enak. Dia akhirnya meminta  Ara untuk meninggalkan lingkungan Istana, serta mengantarkannya hingga masuk ke mobil.

"Yang jelas Ara akan terus bantu saya," jawab Jokowi kikuk saat ditanyai wartawan.

Kisah Teten Masduki Jadi Kepala Kantor Staf Presiden

Johny Lumintang pernah digadang-gadang menempati posisi Kepala Staf Presiden (KSP). Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Filipina itu rencananya akan menggantikan posisi Luhut Binsar Pandjaitan saat reshuffle kabinet di tahun 2015.

Jokowi memang merombak Luhut dari posisi Kepala Staf Presiden menjadi Menko Polhukam. Ini terjadi pada 12 Agustus 2015, tepat ketika terjadi reshuffle kabinet jilid pertama.

Sesuai agenda yang telah direncanakan, Johny seharusnya akan dilantik pada 2 September 2015 di Istana Negara. Dia dinilai berkompeten mengisi posisi tersebut lantaran sejumlah pengalaman yang dimiliknya. Johny sendiri merupakan lulusan AKABRI Angkatan 1970.

Namun, tepat di hari pelantikan itu, Jokowi lagi-lagi menunjukkan plot twist pada menit-menit terakhir. Skenario Johny sebagai KSP batal.  Jokowi justru menunjuk Teten Masduki kurang dari satu jam sebelum pelantikan
.
Teten yang ditunjuk secara mendadak itu kalang kabut. Dengan persiapan yang seadanya, Teten yang saat itu menjabat Staf Khusus Presiden akhirnya mengenakan setelan jas hitam dan dasi merah. Dia dilantik hari itu.

"Kemarin tanpa pemberitahuan sama sekali saya dilantik sebagai KSP. Terus saya protes ke Pak Presiden, kok tanpa dikasih tahu, tanpa ditanya kesiapaan saya, siap atau tidak," kata Teten di Kantor Staf Kepresidenan,Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2015). [kumparan.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel