Jokowi-Mahfud MD Menguat


Teka-teki siapa cawapres Joko Widodo lambat laun mulai terungkap. Dua hari jelang penutupan pendaftaran, Jokowi dan parpol koalisi kabarnya sudah memilih nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD sebagai pendamping Jokowi di Pilpres 2019.

Nama Mahfud MD memang selama ini selalu intens berkomunikasi dengan Istana. Sejumlah sumber menyebut, Mahfud MD hampir dipastikan menjadi cawapres Jokowi. Dalam sebulan terakhir, bisa dibilang hanya dua nama kandidat cawapres yang menguat, yaitu Mahfud MD dan Wapres Jusuf Kalla.

Sebenarnya, Wapres JK meraup lebih banyak dukungan dari parpol pendukung Jokowi seperti PDIP, Golkar, NasDem, PPP, PKB, Hanura, PSI, Perindo, dan  PKPI. Namun, langkah JK terhenti karena hingga saat ini, MK belum memutuskan uji materi soal gugatan syarat pencalonan capres dan cawapres.

Istana tidak ingin terus menunggu putusan MK soal syarat pencalonan cawapres. Sebab, waktu pendaftaran makin mepet. Hal ini disampaikan oleh politikus PDIP yang juga menjabat Sekretaris Kabinet, Pramono Anung.

"Kalau putusan MK enggak putus-putus, masa kita tunggu terus. Kan waktunya sudah mepet," ujar Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (7/8).

Setelah JK keluar dari radar, praktis hanya tinggal nama Mahfud MD yang menguat. Sejumlah sumber menyebut Mahfud dianggap sebagai kandidat ideal pendamping Jokowi. Selain itu, Mahfud juga dianggap memiliki keahlian di bidang hukum. Ia pun juga bisa dianggap sebagai representasi Islam, meski tak mengakar kuat di Nahdlatul Ulama (NU).

"Dia bersih, rekam jejaknya bagus, integritasnya juga tak perlu diragukan lagi," ujar sumber yang mengetahui pencalonan Mahfud.

Ketum PPP M. Romahurmuziy alias Romy sudah memberi kode bahwa cawapres Jokowi memiliki nama yang diawali huruf M.

"Awalannya M. Yang kedua, tidak keluar dari 10 nama yang saya sampaikan. Kan saya sudah tegaskan percayalah tak akan keluar dari 10 nama itu. Hanya waktu itu banyak yang meragukan statement saya. Percayalah statement Ketua Umum PPP paling benar," kata Romy di Gedung Tegar Beriman, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8).

Selain itu, Romy menyebut kriteria yang mengarah ke nama Mahfud MD.

"Siapa cawapresnya? Yang jelas dia melengkapi pelangi NKRI di mana presiden dan wapres selalu mengikuti pola nasionalis-religius sebagaimana sejak Desember 2017 lalu secara konsisten saya sampaikan. Dia juga memiliki pengalaman paling luas dalam segala ranah pemerintahan," papar Romy melalui Twitter, Rabu (8/8).

"Dia juga mewakili warna religiusitas ormas Islam terbesar di Indonesia serta sudah malang-melintang dalam aneka jabatan publik sejak reformasi. Dan yang pasti, seperti sudah saya tegaskan tidak akan keluar dari 10 nama yang saya pernah saya sampaikan Juli lalu," ucap Romy.

Proses panjang Mahfud MD dipilih jadi pendamping Jokowi


Proses sebelum akhirnya Mahfud terpilih tak sepenuhnya mulus. Parpol pendukung Jokowi terbelah soal pemilihan Mahfud. Sejumlah sumber menyebut PDIP, Golkar, NasDem, Hanura, PSI, PKPI, Perindo setuju dengan Mahfud MD.  Namun, resistensi muncul dari  PKB dan PPP. Meski, belakangan PPP sudah luluh dan setuju Mahfud MD.

Ketum PKB Muhaimin Iskandar menolak Mahfud karena dianggap bukan merupakan representasi NU. Selain itu, Mahfud juga tak berpartai dan tidak memiliki massa Islam yang kuat. Penolakan Cak Imin juga didukung oleh Ketum PBNU Said Aqil Siradj. Said Aqil lebih setuju jika Cak Imin yang dipilih menjadi cawapres Jokowi.

Berbagai lobi pun dilakukan agar Cak Imin dan NU setuju dengan pemilihan Mahfud. Lobi pertama dilancarkan kepada Said Aqil Siradj. Presiden Jokowi disebut sudah bertemu beberapa kali dengan Said Aqil untuk meminta saran, apakah Mahfud MD sosok yang tepat untuk menjadi pendampingnya.

Tak hanya Jokowi, orang dekat Mahfud MD, Yenny Wahid, juga ikut 'melobi' Said Aqil agar bisa 'menerima' Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi. Pada Selasa (7/8) kemarin sore, Yenny Wahid bertemu dengan Said Aqil, didampingi dengan Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, Sekjen PKB Abdul Kadir Karding, mantan Menteri Pendidikan yang juga pengurus PBNU, Muhammad Nuh.

Gus Ipul membenarkan pertemuan tersebut. Namun, ia membantah pertemuan untuk merayu Said Aqil agar menerima Mahfud MD. "Jadi akan ada sesuatu, ya mungkin yang kaku bisa jadi lemes, yang lemes jadi kaku," ujar Gus Ipul kepada kumparan, Rabu (8/8).

Setelah respons positif diterima dari Said Aqil, pertemuan dilanjutkan dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar. Said Aqil bersama Karding, Gus Ipul dan sejumlah pengurus PKB lain bertandang ke kediaman Cak Imin untuk membahas skenario cawapres.


Diakui bahwa Cak Imin masih berambisi untuk menjadi cawapres Jokowi. Ia pun sadar, nama Mahfud makin menguat. Gus Ipul menyebut bahwa dalam pertemuan itu, mereka lebih banyak mendengarkan keinginan Cak Imin.

"Kita dengarkan Cak Imin dulu. Sebagai ketum parpol, orang punya modal politik untuk mencalonkan presiden karena yang mencalonkan partai, PBNU tidak mencalonkan. NU hanya ingin mendengar aspirasi," jelas Cak Imin.

Kini, Jokowi hanya tinggal memfinalisasi pilihannya, Mahfud MD. Nama Mahfud akan disampaikan dalam pertemuan dengan ketum parpol malam ini di Istana Merdeka.
Seluruh partai pendukung Jokowi masih malu-malu soal nama Mahfud MD. Para elite menyebut, menyerahkan sepenuhnya kepada Jokowi soal cawapres.

"Siapa pun yang akan diputuskan oleh Pak Jokowi NasDem akan menerima itu, dan NasDem tetap akan sami' na wa' athona (kami dengar kami taat). Kan itu pasti sudah melalui proses panjang, kontemplasi sudah berpikir secara strategis," ujar Ketua DPP NasDem Willy Aditya. [kumparan.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel