Disaat Mata Uang Negara Berkembang Berguguran, Di era Jokowi Ekonomi Indonesia Aman & Terus Melaju

Foto: Biro Pers Setpres

Dalam beberapa minggu terakhir, mata uang sejumlah negara berkembang mengalami pelemahan. Tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang disebabkan meningkatnya ketegangan perdagangan dan masih perkasanya dollar AS.

Meski demikian, rupiah berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibanding mata uang lain. Mata uang Rupiah masih dalam kendali. Meski terjadi penguatan dolar, ekonomi RI pun dalam kondisi yang bagus. Hal tersebut disebabkan karena Pemerintah Presiden Jokowi telah mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memastikan stabilitas ekonomi dalam negeri.

Menguatnya dolar di tanah air pun mendapat beragam komentar, terutama dari sejumlah pihak oposisi. Bahkan ada pula yang mengatakan akan terjadi krisis di Indonesia seperti tahun 1998. Padahal kondisi ekonomi Indonesia saat ini begitu kuat dan kondisinya jauh berbeda dengan 1998. Mengutanya dolar juga tidak terasa bagi masyarakat, hal tersebut bisa dilihat dari harga kebutuhan pokok yang stabil.

Mungkin banyak yang tidak tahu kalau pemerintahan Jokowi banyak melakukan pembangunan dan perbaikan di sektor moneter, seperti banyak proyek infrastruktur jalan tol yang mangkrak bertahun-tahun, namun Presiden Jokowi menemukan solusi kreatif, yaitu dengan cara memberikan jaminan dari pemerintah kepada investor. Dimana jalan tol diselesaikan sebagian terlebih dahulu sehingga dapat langsung digunakan dan memberikan profit bagi investor.

Proyek-proyek mangkrak terus diurai dan dicari permasalahannya untuk dilanjutkan kembali, salah satunya adalah bandara Kertajati yang bertahun-tahun mangkrak karena tidak ada dana. Presiden Jokowi bersama Kementerian Keuangan memberi solusi kerjasama investasi antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah (Jawa Barat) sehingga hasilnya dapat terasa.

Perbaikan strategi moneter di bawah pemerintahan Presiden Jokowi pun mulai menunjukkan hasilnya. Sebagai contoh, adalah Inflasi yang terkendali.

Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi terus menunjukkan trend positif termasuk di bidang ekonomi. Di tengah masalah ekonomi dunia akibat penguatan dollar, ada 8 negara yang dinilai paling aman dari krisis, salah satunya adalah  Indonesia.

Dilansir dari kompas.com, Analisis yang dilakukan Nomura Holdings Inc menunjukkan ada delapan negara berkembang yang dipandang memiliki risiko paling kecil terpapar krisis moneter. Negara-negara tersebut antara lain Indonesia, Brasil, Bulgaria, Kazakhstan, Peru, Filipina, Rusia, dan Thailand.

Dalam analisis Nomura, delapan negara tersebut memperoleh skor nol terkait risiko krisis moneter. Artinya, negara-negara itu memiliki risiko yang sangat kecil untuk mengalami krisis.

Analisis Nomura didasarkan pada model peringatan awal krisis yang dinamakan Damocles. Model tersebut memeriksa sejumlah faktor, termasuk cadangan devisa, tingkat utang, suku bunga, dan impor.

Nomura menilai fundamental ekonomi Indonesia sangat baik. Selain itu, penguatan dollar terhadap rupiah terjadi secara gradual yang menunjukkan ini semata dipengaruhi faktor kebijakan suku bunga di AS. Dengan kondisi seperti itu, Indonesia dapat terus melaju mengejar target menjadi negara maju pada 2039.

Kondisi moneter yang terjaga stabil menjadi fondasi kokoh untuk percepatan pembangunan, baik itu pembangunan infrastruktur secara besar-besaran, penguatan investasi, entepreneurship dan UMKM, serta pengembangan kualitas sumberdaya manusia. [Admin ISP]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel