4 Tahun pimpin Indonesia, Jokowi dinilai mampu bereskan dua warisan masalah


Kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah memasuki tahun ke empat. Direktur Institut Narasi Indonesia, Mickael B. Hoelman, menilai empat tahun terakhir Jokowi bisa membereskan dua masalah besar yang diwarisi pemerintahan sebelumnya sehingga patut diapresiasi.

Masalah besar pertama terkait beban subsidi energi yang terlalu besar sehingga pemerintah sulit untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan manusianya. Pemerintahan Jokowi, katanya, sudah dengan berani mencabut subsidi energi.

"Bayangkan bila pemerintah kita itu tidak berhasil mengelola beban energi itu, saya kira dengan adanya krisis global ini, terutama yang melanda semua, agak sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen," katanya dalam diskusi bertajuk '4 Tahun Kepemimpinan Jokowi' diJakarta, Kamis (18/10).

Warisan masalah kedua, katanya, terkait pertumbuhan tidak berkualitas. Di mana ketimpangan di Indonesia juga meningkat walau ada pertumbuhan ekonomi.

Mickael menganggap bahwa masalah kemiskinan dan ketimpangan ini sudah berhasil dikurangi oleh Jokowi. Kerusuhan dan kecemburuan sosial pun dapat dihindari karenanya.

"Nah kita lihat 4 tahun ini, terutama tahun ini, Pak Jokowi pemerintahannya kemudian berhasil untuk sedikit mengelola. Pertama adalah soal pengurangan kemiskinan turun di bawah 2 digit. Saya kira siapapun pemerintahan ke depan mengelola dengan warisan ini akan lebih mudah," jelasnya.

"Yang kedua ketimpangan yang melewati poin 3,9 persen sekarang juga sudah mulai turun menjadi 3,8 persen," lanjutnya.

Dengan pencapaian ini, Mickael merasa siapa pun yang akan menjadi presiden di tahun selanjutnya akan mewarisi suatu ruang yang lebih leluasa untuk dikelola.

"Saya kira kita perlu apresiasi untuk pemerintahan saat ini sebagaimana kita mengapresiasi pemerintahan sebelum Jokowi yang juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi indonesia," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Program Tim Pemenangan Nasional Jokowi-Maruf Amin, Aria Bima, juga mengatakan Tim Kampanye Nasional (TKN) berusaha semaksimal mungkin dalam membuat visi dan misinya pada Nawacita II karena melihat apa yang dilakukan Jokowi saat ini. Salah satunya meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.

"Kami dari TKN berusaha semaksimal mungkin dalam membuat visi misi atau Nawacita II, berusaha menjelaskan kepada publik beberapa hal mulai berpikir lebih realistis bagaimana awal Jokowi-Kalla kemudian capaian program pemerintah," tuturnya.

Menurutnya, dalam 4 tahun pemerintahan Jokowi, pondasi-pondasi lainnya juga semakin diperkuat dalam rangka menunjukkan Indonesia sebagai bangsa yang maju.

"Pak Jokowi ingin konsepsi kita gak bisa lepas dari konsepsi global. Kita hanya dijadikan obyek strategis di antara konsepsi global," kata dia.

Aria menganggap Jokowi memiliki visi di mana Indonesia bukan lagi menjadi objek, tetapi juga subjek dalam persaingan global. [merdeka.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel