Kubu Jokowi sindir Prabowo: Purnawirawan Kopassus tak patut bermanja dan baper

Foto: Merdeka.com

Gerindra melalui Sekretaris Jenderalnya, Ahmad Muzani, menyatakan Pilpres 2019 merupakan pertarungan terberat bagi calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto. Setidaknya ada dua alasan yang membuat terasa berat. Dia menyindir mobilisasi kepala daerah dan lembaga survei yang tak berimbang.

Terkait hal ini, Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding, mengatakan, ada suatu upaya membuat terkesan mereka dizalimi. Padahal mencoba menutupi lemahnya tim kampanye Prabowo-Sandiaga.

"Ya saya kira, yang disampaikan oleh Gerindra adalah satu upaya framing bahwa mereka lagi dizalimi, mereka dilemahkan secara, seakan-akan, secara struktur dan masif yang sesungguhnya, dan terjadi bagian dari menutupi keburukan dari tim kampanye mereka yang selama ini, yang secara faktual ditemukan membangun narasi kebohongan-kebohongan terus menerus. Sehingga kebohongan ini ternyata memicu turunnya elektabilitas dari Pak Prabowo," ucap Karding, Kamis (11/10).

Selain itu, menurut dia, tak pantas jika Gerindra ataupun Prabowo merasa sensitif atau baper. "Sebagai purnawirawan Kopassus, saya kira tidak patut beliau bermanja-manja, baper seperti itu, apalagi sering beliau katakan, kita ksatria dan bertarung secara fair," tutur Karding.

Dia mengungkapkan, pihaknya sejak Pilpres 2014, juga sering dihujani isu-isu yang menyudutkan. Tapi tak membuat Jokowi mengeluh.

"Kami dalam dua kali Pilpres Pak Jokowi ini, walaupun tidak mengeluh, kami anggap biasa dalam pertarungan. Tentu mesti kita dorong ada perbaikan saja. Bahwa sejak awal kami dihadapi isu-isu yang dibangun atas dasar data yang lemah atau hoaks. Yang kedua isu-isu yang dibangun bernuansa sangat pribadi dan SARA. Misalnya isu soal PKI, soal agama, dan lain sebagainya. Itu berat, tetapi kami tidak mengeluh," ungkap Karding.

Meski begitu, masih kata dia, pihaknya selalu menjawab dengan data. Dan masyarakat tetap memberikan dukungan ke Jokowi, sebagai tanda bukti percaya dengan data yang disampaikan.

"Kami menyampaikan dan menjawabnya dengan data, dan Alhamdulillah, publik, masyarakat, dengan akal sehat, dengan adat ketimuran, bertahap tapi pasti memberi dukungan kepada Pak Jokowi," pungkasnya.

Sebelumnya, Muzani, menyampaikan Pilpres ini berat bagi Prabowo. Alasannya, karena banyak kepala daerah yang mendeklarasikan diri mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Muzani mengatakan, pada Pilpres 2009 belum ada pengerahan kepala daerah mendukung salah satu pasangan capres-cawapres. Oleh karena itu, pertarungan di 2019 bisa dianggap lebih berat dari sebelumnya.

Selain faktor dukungan, hasil rilis lembaga survei terkait survei Prabowo-Sandi juga memperberat langkah Mantan Danjen Kopassus itu. Muzani mengatakan, banyak lembaga survei yang tidak berimbang. [merdeka.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel