Mendag: Berkah Perang Dagang, Ekspor Tekstil RI ke AS Naik 25 Persen

Foto: Kumparan

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China coba dimanfaatkan Indonesia. Pemerintah berhasil mendekati AS agar mau bekerja sama dengan Indonesia dalam bisnis industri tekstil.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menceritakan dirinya berhasil meyakinkan AS bahwa Indonesia akan membeli kapas petani AS yang tidak bisa diekspor ke China karena perang dagang. Kata dia, ini merupakan sinyal yang bagus untuk Indonesia.

"Good signal. Secara keseluruhan kita bisa tunjukkan itikad kepada AS. Saya bilang, saya datang ke AS, bukan untuk membicarakan GSP. Saya diperintahkan Pak Presiden Jokowi untuk menanyakan apa yang ada, kesulitan apa yang anda dapatkan. Petani-petani kapas anda enggak bisa jualan? Petani soybean enggak bisa jualan? Kami beli," kata Enggar saat ditemui di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Tapi, kata Enggar, sesudah itu, AS harus beli tekstil dari Indonesia sebab produk yang dibuat di dalam negeri merupakan bahan kapas AS. Diplomasi ini, diakui Enggar bisa meningkat ekspor tekstil 25 persen.

"Saya bilang, kami alihkan pembelian kapas dari negara lain sejauh Anda beli tekstil dari kami. Jadi, dengan diplomasi ekonomi seperti itu, pertumbuhan dari teman-teman API, saya dengar komitmen ekspornya tumbuh 25 persen ke AS," jelasnya.

Enggar mengatakan dengan skema kerja sama seperti ini juga menguntungkan AS karena kedelai juga masuk. Dia menjelaskan, kedelai di AS hargaya tidak mengalami kenaikan walaupun dolar AS tengah perkasa karena harga pembeliannya turun.

Enggar lalu mengumpulkan para importir kedelai Indonesia untuk membeli kedelai AS. Karena pembelian kedelai dari Indonesia akan naik, Enggar minta agar harga jual dari AS diturunkan Rp 50. Ini dilakukan agar menolong produsen tahu dan tempe di dalam negeri.

"Saya minta diturunkan. Turun Rp 50, jualan ke tukang tahu sama tukang tempe. Jadi, tidak setipis kartu kreditlah," kata dia 

Mendag juga menuturkan kalau pemerintah harus hadir dan memberi keberpihakan agar produsen dalam negeri tertolong dalam memperoleh bahan baku, meski dari luar negeri.

"Mereka (produsen dalam negeri) cuma minta bisa langsung tanpa prosedur birokrasi, ya kami lakukan. Gakoptindo minta mereka masuk, jadi dimasukkin. Saya minta importir memotong mata rantai sehingga lebih murah lagi. Itu yang menarik, karena itu makanan rakyat walaupun bahan bakunya impor," ucapnya. [kumparan.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel