Presiden Jokowi: Kita Bangsa Besar, Masak 5 Tahun Sekali Ribut Terus?


Direktorat Pembinaan SMA dan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar acara AKSI (Apresiasi Kebangsaan Siswa/Siswi Indonesia) 2018 di Bogor, Jawa Barat, 9-12 Oktober 2018.

Acara ini bertujuan memberikan pendidikan dan pelatihan wawasan kebangsaan kepada ketua OSIS dan ketua sie kerohanian SMA dan SMK dari seluruh Indonesia. Tidak  kurang 540 siswa dan 68 guru pendamping dari 34 provinsi hadir dalam kegiatan ini.

Ada beberapa pilar karakter nilai ditanamkan dalam ajang AKSI 2018 tahun ini: nasionalisme, kemandirian, religius dan gotong royong.

Presiden Joko Widodo berkesempatan hadir dalam acara ini (10/10/2018).

Kita bangsa besar

"Negara kita adalah negara besar. Kita memiliki 263 juta jumlah penduduk penduduk di 17 ribu pulau," kata Jokowi dalam pengarahan kepada para siswa dan guru di awal acara.

Presiden menceritakan, ia pernah menghabiskan melakukan perjalanan dari Aceh hingga Wamena dan membutuhkan waktu 9 jam 15 menit waktu perjalan. "Itu sama dengan perjalanan dari London hingga Turki. Kita bangsa yang sangat besar anak-anakku sekalian," jelas Presiden Jokowi.

Bedanya, lanjut Presiden, kita dianugrahi Tuhan dengan banyak perbedaan. Beda agama, suku dan bahasa daerah, tambahnya.

Besar dengan anugerah perbedaan

"Kalau perbedaan ini tidak disadari kita akan mudah diadudomba," lanjut Presiden. Kita memiliki 714 suku, Singapura hanya 4 dan Afganistan hanya 7. Kalau kita tidak memahami hal itu, bahaya perpecahan akan mengancam.

"Afganistan hanya ada 7 suku namun perang 40 saudara tahun tidak selesai," ujar Presiden.

"Masa depan adalah milik anak-anak semua. Jangan sampai tidak menyadari mengenai perbedaan ini. Inilah negara kita Indonesia. Jangan sampai kita terpecah belah baik oleh kepentingan luar atau maupun politik di dalam," pesan Presiden Jokowi.

Para pemimpin OSIS di sini, kalau tidak bisa mengajak teman-teman untuk bersatu bisa berbahaya.

Belajar dari semangat Asian Games

Presiden menyampaikan, berbeda pilihan adalah hal biasa, termasuk perbedaan dalam pilihan bupati, gubernur hingga presiden. Berbeda pilihan biasa dalam demokrasi.

"Masak setiap 5 tahun ada pemilihan bupati, gubernur dan presiden kita mau berantem terus? Ingat saat Asian Games lalu, saat kita bersatu, kita memperoleh 31 medali emas. Karena apa? Bersatu. Tidak mikir badminton agama apa suku apa, hanya untuk merah putih. Untuk berkumandangnya Indonesia Raya," tegas Presiden Jokowi yang langsung disambut tepuk riuh para peserta.

Presiden juga mengharapkan, para siswa yang merupakan generasi digital untuk berperan aktif dalam meluruskan hoax di media sosial. [kompas.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel