Tak Ingin Kalah 5 Kali, Ini Alasan PPP Dukung Capres Jokowi

Foto: Liputan6.com

Ketua Umum (Ketum) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmziy membeberkan alasan partai berlambang Kakbah itu mendukung Calon Presiden (Capres) Jokowi yang akan maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Sebab, kubu yang didukung PPP selalu kalah melawan Jokowi sejak Pilkada Solo hingga Pilpres 2014.

"Sejak 2005 sampai 2014 selama 9 tahun itu PPP selalu kalah ketika melawan Pak Jokowi. Mulai dari Pilkada Solo selama dua kali, Pilgub DKI Jakarta dan Pilpres 2014. Kita sudah kalah selama empat kali dan kami tidak ingin kalah untuk kelima kalinya," kata dia saat memberikan pembekalan di hadapan ratusan caleg di Hotel Sahid Jaya, Solo, Rabu, 10 Oktober 2018.

Ketum PPP yang akrab disapa Rommy itu mengungkapkan dengan alasan seperti itu, PPP dalam Pilpres 2019 nanti mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Peta kontestasi politik pada 2019 lalu merupakan pertandingan ulang karena Capres yang dihadapi masih sama, yakni Prabowo.

"Pilpres 2019 merupakan rematch dari Pilpres 2014 lalu karena yang ganti hanya cawapresnya, sedangkan untuk capresnya masih sama. Orang biasanya tetap melihat kepada figur capresnya," ujarnya.

Ketum PPP mengungkapkan dukungan tersebut juga berasal dari usulan sejumlah pengurus wilayah partai yang bernomor urut 10. Bahkan, saat mendukung Prabowo pada Pilpres 2014 silam juga melalui proses Mukernas PPP pada Februari  2014 di Bandung. Setelah itu keputusan itu dipungkasi dengan Rapimnas pada Juni 2014.

"Sehingga untuk pengambilan keputusan partai itu konstitusional karena mendengarkan hasil dari usulan pengurus wilayah," kata dia.

Alasan PPP Tinggalkan Prabowo

Hanya saja setelah Pilpres 2014, Rommy mengungkapkan jika PPP mengambil keputusan untuk membelokkan dukungan kepada Jokowi . Pasalnya, sebagai partai yang didirikan oleh para ulama tentu pengurus partai harus mendengarkan fatwa dan perintah ulama tertinggi dalam struktur PPP.

"Pada suatu hari setelah kekalahan Pak Prabowo, saya ditimbali oleh Romo Kyai Maimoen Zubair dan pada waktu itu beliau menyampaikan kepada saya agar PPP meneguhkan tradisi sunni di dalam perpolitikan yang dijalankan," kata dia.

Rommy menjelaskan bahwa tradisi sunni yang dimaksud adalah prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Ketua Majelis Syariah PPP, KH Maimoen Zubair meminta dirinya yang saat itu menjabat Sekjen untuk memutar haluan mendukung Jokowi. Sebab, amar ma’ruf nahi munkar bisa dilakukan jika memiliki kekuasaan.

"Kalau tidak  memiliki kekuasaan menurut beliau hanya amar ma’ruf saja tidak bisa nahi munkar. Kenapa? Karena DPR sebagai pembuat UU hanya bisa menuliskan kata-kata manis untuk diperitnahkan atau dilarang saja, tidak bisa melakukan penegakan. Nahi munkar itu soal penegakan atau law enforcement," tegasnya. [liputan6.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel