Ogah Melemah, Rupiah Terbaik di Asia 3 Hari Beruntun


Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih belum bosan menguat. Hari ini menjadi yang ketiga secara beruntun rupiah finis di jalur hijau.

Pada Kamis (8/11/2018), US$ 1 dibanderol Rp 14.535 kala penutupan pasar spot. Rupiah menguat 0,27% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya.

Sepanjang hari ini, pergerakan rupiah agak aneh. Rupiah dibuka melemah 0,14% dan terus melemah hingga menyentuh minus 0,58%. Bahkan rupiah sempat merasakan status sebagai mata uang terlemah di Asia.

Namun jelang tengah hari, rupiah mampu berbalik arah dan menguat. Penguatan itu semakin tajam dan sempat mencapai 0,86%. Dolar AS sempat didorong ke bawah Rp 14.500.

Selepas itu, apresiasi rupiah agak menipis dan akhirnya finis dengan apresiasi 0,27%. Berikut pergerakan kurs dolar AS terhadap rupiah hari ini:

Dolar AS vs Rupiah





Petang ini, dolar AS bergerak variatif di Asia. Selain rupiah, mata uang yang mampu menguat adalah dolar Hong Kong, rupee India, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura.

Namun di antara mata uang yang menguat itu, apresiasi rupiah jadi yang paling tajam. Walau tidak lagi menguat di kisaran 1%, rupiah masih belum tergoyahkan sebagai raja Asia.

Berikut perkembangan kurs dolar AS di hadapan sejumlah mata uang utama Benua Kuning pada pukul 16:12 WIB:

Dolar AS vs Mata Uang Asia


 Inalum Terbitkan Surat Utang untuk Beli Freeport, Rupiah Kuat

Rupiah dan mata uang Asia lainnya mampu bertahan di tengah keperkasaan dolar AS. Pada pukul 16:15 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,18%.

Faktor utama yang membuat mata uang Asia bisa bertahan adalah data ekonomi teranyar di China. Ekspor Negeri Tirai Bambu mengumumkan ekspor tumbuh 15,6% year-on-year (YoY) pada Oktober, lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 14,5%. Pencapaian Oktober juga jauh lebih baik ketimbang konsensus pasar yang memperkirakan pertumbuhan ekspor di angka 11%.

Sementara impor tumbuh 21,4%, melonjak dibandingkan September yang naik 14,3%. Juga lebih baik ketimbang konsensus pasar yang meramal pertumbuhan sebesar 14%.

Pelaku pasar menilai ternyata China tidak terlalu terluka akibat perang dagang dengan AS. Meski data-data ekonomi domestik melambat, seperti Purchasing Managers Index (PMI), tetapi kinerja eksternal China masih meyakinkan. 

China adalah perekonomian terbesar di Asia, sehingga hidup-mati China akan sangat mempengaruhi negara-negara Asia lainnya. Ketika kinerja ekonomi China impresif, maka ada harapan bisa mengangkat para tetangganya termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, China adalah pasar ekspor nomor 1. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor Indonesia ke China mencapai US$ 18,52 miliar atau 15,14% dari total ekspor. Jika ekonomi China masih bergeliat, maka ekspor Indonesia pun ikut terangkat.

Selain itu, sentimen besar yang ikut mengangkat rupiah adalah penerbitan obligasi global oleh PT Inalum sebesar US$ 4 miliar. Perolehan dana ini dipakai untuk membeli saham PT Freeport Indonesia.

Inalum menerbitkan 4 seri obligasi yaitu tenor 3 tahun senilai US$ 1 miliar (kupon 5,5%), tenor 5 tahun US$ 1,25 miliar (kupon 6%), tenor 10 tahun US$ 1 miliar (kupon 6,875%) dan tenor 30 tahun US$ 750 juta (kupon 7,375%). BNP Paribas, Citigroup, dan MUFG menjadi joint global coordinators. Sedangkan CIMB, Maybank, SMBC Nikko and Standard Chartered menjadi joint bookrunners.

Hasil penerbitan ini mampu menambah pasokan valas di dalam negeri sehingga rupiah menguat. Bahkan mungkin saja faktor ini menjadi kunci penguatan rupiah hingga menjadi yang terbaik di Asia.

Kemudian, kemungkinan investor sedang 'mengangkat' rupiah sebelum saat-saat menegangkan esok hari. Sebab besok ada rilis data yang kemungkinan bisa melemahkan rupiah yaitu Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III-2018. Kemungkinan NPI dan transaksi berjalan (current account) kuartal III-2018 masih akan membukukan defisit, bahkan bisa jadi lebih dalam ketimbang kuartal II-2018.

Jadi pasokan valas di perekonomian dalam negeri sebenarnya masih seret. Utamanya pasokan dari ekspor-impor barang dan jasa yang dicerminkan dari transaksi berjalan, nilainya terus-menerus minus. Ini tentu akan menjadi sentimen negatif buat rupiah.

Oleh karena itu, rupiah yang diangkat hari ini akan lebih menggiurkan bila dilepas besok. Sebab besok akan ada alasan yang kuat untuk 'membanting' rupiah. [cnbcindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel