Wiranto: Kita Lahir, Hidup dan Mati di Indonesia, Kok Tak Mencintai, Khianat Namanya


Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengajak semua pihak untuk membela dan merawat persatuan yang telah diwariskan para pendiri bangsa dengan toleransi.

"Mari kita rawat dan bela persatuan bangsa seperti yang sudah diwariskan para pendahulu kita," kata Wiranto pada Rakernas II Mathla'ul Anwar, di Jakarta, Sabtu (8/12).

Wiranto yang juga Ketua Dewan Penasihat Mathla'ul Anwar mengatakan, negeri ini didirikan karena toleransi para pendahulu yang berhasil mempersatukan beragam suku bangsa dan memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda.

"Kalau mayoritas penduduk Islam logikanya negara Islam. Tapi tokoh-tokoh kita dulu sadar bahwa jika ego kita untuk memaksakan negara Islam dibangun maka NKRI tidak ada. Makanya kembali toleransi, egonya disimpan dan kita bentuk NKRI dari berbagai macam umat beragama dengan toleransi," katanya lagi.

Karena itu, persatuan dan kemerdekaan yang didapat hingga lahir NKRI perlu dirawat dengan toleransi. "Saya percaya Mathla'ul Anwar adalah ormas Islam yang masih konsisten untuk merawat NKRI," ujar dia pula.

Karena itu, Wiranto mengingatkan organisasi mana pun jangan mencoba-coba tidak merawat NKRI, karena diibaratkan sebuah perahu, Indonesia menuju cita-cita untuk memakmurkan rakyatnya, maka siapa saja yang tidak merawat dengan ideologi selain Pancasila akan sama-sama tenggelam.

"Kita dilahirkan, hidup, mati di Indonesia, kok tidak mencintai. Khianat namanya. Allah sudah berikan kita negara yang damai," katanya pula. Karena itu, ia mengharapkan dan mengajak untuk mempunyai rasa ikut memiliki bangsa ini, membela bangsa, menolak, dan memberantas ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Pancasila.

Selain, kata Wiranto pula, dengan membangun toleransi, mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan serta tetap perjuangkan merah putih dalam Islam yang taat. [merdeka.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel