Sebut Propaganda Rusia, Jokowi: Itu Terminologi, Bukan Bicara Negara


Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) bicara soal istilah 'propaganda Rusia' yang disebutnya saat kampanye di Jawa Timur dan Jawa Tengah beberapa hari lalu. Jokowi menegaskan, istilah itu hanya terminologi dari artikel yang dia baca.

"Ini kita tidak bicara mengenai negara, bukan negara Rusia tapi terminologi dari artikel di Reins Corporation," kata Jokowi ditemui di kediaman Akbar Tandjung, Jl Purnawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (5/2/2019).

Dia menegaskan, apa yang dia sebut itu adalah apa yang dia baca dari artikel di Reins Corporation. Dalam tulisan itu dia menjelaskan soal propaganda yang dilakukan dengan cara menyebarkan kebohongan dan pesimisme.

"Sehingga ya memang tulisannya seperti itu, bahwa yang namanya semburan kebohongan, semburan dusta, semburan hoax itu bisa mempengaruhi dan membuat ragu dan membuat ketidakpastian. Dan itu biasanya di negara-negara lain tanpa didukung oleh data-data yang konkret ya memang seperti itu," jelas Jokowi.

"Sekali lagi ini bukan urusan negara," imbuhnya.

Istilah 'propaganda Rusia' itu diungkapkan Jokowi saat menghadiri kampanye dukungan dari Forum Alumni Jawa Timur. Saat itu Jokowi mengatakan dunia perpolitikan di Indonesia dipenuhi banyak fitnah dan kabar bohong alias hoax.

"Begitu banyaknya fitnah, hoax, kabar bohong yang lalu lalang di medsos. Cara berpolitik itu harus memberikan edukasi, cara berpolitik yang penuh keadaban, sopan santun," kata Jokowi dalam deklarasi Forum Alumni Jawa Timur di Tugu Pahlawan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2).

Dia mengatakan persoalan terkait banyaknya hoax dan fitnah itu karena adanya upaya adu domba ala asing. Dia menyebut hal itu dilakukan oleh tim sukses, yang menurut Jokowi menyiapkan propaganda ala Rusia. Meski demikian, dia tak menyebut secara gamblang tim sukses yang dimaksud.

"Problemnya adalah ada tim sukses yang menyiapkan propaganda Rusia! Yang setiap saat mengeluarkan semburan-semburan dusta, semburan hoax, ini yang segera harus diluruskan Bapak-Ibu sebagai intelektual," katanya. [detik.com]

Iklan Atas Artikel