Jumlah Pasien Positif COVID-19 Sembuh di Sumut Meningkat Signifikan

Kabar baik terkait virus Corona COVID-19 di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kembali muncul. Jumlah pasien positif COVID-19 yang dinyatakan telah sembuh meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Sumut, Aris Yudhariansyah mengatakan, jika sebelumnya jumlah pasien sembuh dari COVID-19 sebanyak 25 orang, bertambah menjadi 33 orang.

"Untuk pasien sembuh hari ini sebanyak 8 orang," kata Aris, Minggu (26/4/2020).

Sementara untuk pasien positif COVID-19 di Sumut juga mengalami penambahan. Jika pada Sabtu, 25 April 2020, sebanyak 123, kali ada 129 pasien terinfeksi virus Corona COVID-19 di Sumut.

"Angka pasien positif bertambah 6 orang," ujarnya.

Dari jumlah 129 pasien positif COVID-19 di Sumut, 111 diantaranya positif berdasarkan hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) dan 18 orang positif berdasarkan hasil Rapid Test atau skrining awal.

Sementara, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terkait COVID-19 yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Sumut juga mengalami peningkatan dari hari sebelumnya, yakni 150 orang.

Untuk jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP), berdasarkan data yang diperoleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Sumut juga mengalami peningkatan, sebelumnya 2.150 menjadi 2.443.

"Data pasien meninggal dunia masih sama dengan data sebelumnya, 12 orang," ujarnya.

Satu Orang Positif Jadi Titik Sebar Baru

Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Sumut lainnya, Whiko Irwan menyampaikan, satu orang saja yang terkonfirmasi positif dan memiliki riwayat kontak erat dengan orang sekitar, maka bisa menimbulkan titik sebaran baru.

"Upaya menekan penyebaran terus dilakukan pemerintah bersama seluruh pihak masyarakat di semua daerah yang ada," sebutnya.

Berdasarkan pantauan dan informasi diterima Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprov Sumut, sejumlah lokasi khususnya di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, terutama wilayah perbatasan, kondisi masyarakat di beberapa titik terlihat ramai dan terjadi konsentrasi keramaian saat sore hari hingga menjelang berbuka puasa.

Bahkan selain keramaian, banyak diantaranya tidak menggunakan masker, melakukan transaksi jual beli dengan jumlah penumpukan massa hingga 10 sampai 15 orang untuk satu gerai atau lapak dagangan takjil (menu berbuka puasa).

Whiko menyampaikan kembali, COVID-19 siap kapan saja dan menular kepada siapa saja yang potensial melalui saluran mata, hidung dan mulut, terutama yang tidak menjalankan upaya perlindungan sesuai protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak interaksi sekurangnya 2 meter, mencuci tangan dengan sabun serta menghindari keramaian atau berkerumun.

"Setiap ada orang baru tertular COVID-19, maka pandemi diperpanjang masa keberlangsungannya. Penderita baru akan menjadi sumber baru penularan bagi orang-orang di sekitarnya," jelasnya.

Kepada umat Islam yang melaksanakan ibadah di bulan Ramadan dianjurkan untuk tidak berlama-lama berkumpul di masjid atau musala. Jika ada kegiatan seperti iktikaf atau tadarusan, diminta untuk menjaga jarak dua meter antara satu dengan yang lain. Namun anjuran tersebut untuk daerah yang masuk zona kuning atau hijau.

"Untuk yang zona merah, dimbau agar beribadah di rumah. Sehingga kita tetap dapat keberkahan Ramadan dan terhindar dari COVID-19," tandasnya. [liputan6.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan