Hal yang Disorot Wapres Ma'ruf Terkait Pembelajaran Jarak Jauh

Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, menyadari pada dasarnya kegiatan belajar mengajar di sekolah atau pesantren akan lebih baik jika dilakukan tatap muka. Sebab menurutnya, belajar di rumah menimbulkan persoalan ketidaksetaraan.

"Banyak rumah tangga yang tidak dapat memiliki akses terhadap internet. Menurut SUSENAS-BPS tahun 2018, ada sekitar 61 persen anak tidak memiliki akses internet di rumahnya," kata Ma'ruf Amin.

Hal itu disampaikan Wapres saat menghadiri rapat koordinasi KPAI 2020 tentang Kesiapan Pesantren dan Satuan Pendidikan Berbasis Asrama dalam Penerapan New Normal(Hambatan dan Solusi Perspektif Perlindungan Anak) melalui siaran telekonferensi, Jakarta, Kamis (11/6).

Selain persoalan kesetaraan, lanjut Ma'ruf, informasi yang dia terima dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, bahwa sesungguhnya belajar dengan media jarak jauh atau internet kurang maksimal.

"Bahkan melalui internet pun menurut Mendikbud hasilnya kurang maksimal," jelas Ma'ruf.

Walaupun beberapa daerah belum bisa menerapkan sistem belajar tatap muka, Ma'ruf menyarankan agar guru, hingga orang tua dapat menyesuaikan kondisi anak. Agar kegiatan belajar bisa berjalan efektif.

"Ketersediaan koneksi internet, infrastruktur, dan fasilitas untuk belajar berbasis daring, terutama di wilayah yang akses internet sangat terbatas," ungkap Ma'ruf.

Hal yang sama juga berlaku untuk pesantren. Meski proses belajar mengajar belum bisa dilakukan secara tatap muka di pesantren, kondisi ini bisa diakali dengan sistem belajar jarak jauh yang disediakan lembaga pendidik.

"Lembaga yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan keagamaan, termasuk yang berbasis asrama, perlu terus mencari solusi untuk pembelajaran bagi para santri yang lebih efektif bila pembelajaran tatap muka belum dilakukan dalam waktu dekat," jelas Ma'ruf. [merdeka.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan