Mensos Ngaku Tak Bisa Kerja Sendirian Konglomerat, Ayo Bantu Orang Miskin


Buntut wabah corona, banyak warga miskin yang harus ditolong. Tak cukup hanya Pemerintah yang melakukannya. Para konglomerat yang kantongnya tebal-tebal, tabungannya triliunan dan ratusan miliar, sudah sepantasnya ikut turun tangan.

Ajakan itu disampaikan Menteri Sosial (Mensos) Juliari P. Batubara saat menjadi narasumber RMInsight via zoom yang disiarkan langsung melalui Youtube dan Facebook Rakyat Merdeka, kemarin petang. Acara yang dipandu wartawan senior Rakyat Merdeka Budi Rahman Hakim ini mengambil tema "Bansos Bantu Rekatkan Solidaritas Masyarakat".

Di awal paparannya, Mensos mengaku tak ingin dinilai masyarakat sukses memberi bantuan sosial sebelum berhasil merekatkan kesetiakawanan di antara komponen bangsa dalam memerangi pandemi. "Terlalu simpel kalau kami dinaikkan dengan cara yang begitu (hanya memberi bantuan)," ujarnya.

Makanya, Mensos merangkul sejumlah ormas dan komunitas dalam menyalurkan bansos. Mensos juga memberikan kewenangan kepada mereka untuk berdikari membantu sesama sesuai kemampuannya. "Karena kami sadar dan yakin, kami ini tidak memiliki jangkauan yang bisa mencakup 100 persen dari seluruh warga yang terdampak Covid," sebutnya.

Hal-hal semacam ini, diakui Mensos, mampu mempererat hubungan baik antara institusinya dengan ormas dan komunitas tertentu. Walaupun banyak tantangan yang harus dilewati, karena dihadapi bersama, semuanya akan mudah.

Dalam tiga bulan terkahir, Kemensos fokus pada program-program penyaluran bansos yang sifatnya reguler maupun khusus. Untuk regular, seperti Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako, dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Kata Mensos, penerima manfaat dari ketiga program itu terus diperluas. Karena dia sadar, selama pandemi ini, kemiskinan bertambah. Kemiskinan yang dialami orang miskin pun semakin kronis. "Kami sudah mengantisipasi ini karena dunia juga mengalami fenomena yang sama," paparnya.

Kemensos juga menyasar program khusus yang ditujukan bagi warga yang terdampak corona atau yang tidak pernah mendapatkan bansos reguler. "Atau ada yang mengistilahkan sekarang ini misbar alias miskin baru," ucapnya.

Dia melihat, selama terjun ke lapangan memberi bansos, kondisi orang miskin di perkotaan itu lebih mengerikan dibanding kondisi orang miskin di pedesaan. Kalau di desa, biaya makan lebih murah, kesetiakawanan lebih tinggi, dan udara lebih segar. Sedangkan miskin di perkotaan, tempat tinggal acak-acakan, biaya makan mahal, apalagi saat PSBB, ruang gerak terbatasi.

"Biasanya income per bulan Rp 5 juta tiba-tiba karena pandemi jadi Rp1 juta. Kalau di pedesaan, uang segitu cukup. Tapi kalau di Jakarta, ya susah. Jangankan Rp 1 juta, di Jakarta, Rp 5 juta aja kadang-kadang susah," imbuhnya.

Selain dampak ekonomi, Kemensos juga mengantisipasi perihal dampak sosial akibat pandemi. Lagi-lagi dia menegaskan, Kemensos tidak ingin selalu berperan memberikan bantuan, namun ada sesuatu yang lebih powerfull. Yaitu gotong royong menanggung beban di masa-masa sulit seperti saat ini.

"Paling mudah apabila kita merasa memiliki kemampuan lebih, ya bantu saudara kita yang pantas dibantu sesuai kemampuan. Dibanding misalnya ikut-ikutan mengkritik pemerintah," imbaunya.

Menurutnya, di saat-saat sulit seperti ini, yang pertama dan utama adalah rakyat harus membangun optimisme. Kalau ini tidak bisa, elemen bangsa akan kesulitan untuk bergerak. Contohnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua ini sudah minus. Kuartal ketiga juga masih sulit.

Dia pun memastikan, pemerintah terus bergerak. Seperti menaikkan anggaran Covid dari Rp 405 triliun menjadi Rp 677 triliun. Sebesar Rp 203 triliun di antaranya dalam bentuk perlindungan sosial, meski pun tidak semuanya dikelola Kemensos.

"Ini menunjukkan komitmen pemerintah menanggulangi dampak dari Covid-19 ini. Angka tersebut bisa terlihat besar, juga kecil. Bahkan anggaran Covid di beberapa negara yang APBN-nya sedikit lebih kecil dari Indonesia, tapi anggaran Covid-nya lebih besar dari kita," paparnya.

Kalau anggarannya terlihat besar karena Indonesia memang negara yang sangat luas. Jumlah penduduknya saja 250 juta dan tersebar di seluruh wilayah yang dibatasi laut. "Oleh karena itu, di luar anggaran Covid yang dialokasikan pemerintah, kita gunakan kekuatan kita yang paling utama, yaitu gotong royong," tegas Mensos.

Lewat gotong royong ini, Mensos mengajak semua pihak, yang mampu apalagi konglomerat untuk bersama-sama membantu saudara-saudara yang kesusahan.[rmco.id]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan