Lama Tertindas, Rupiah Akhirnya Libas 3 Dolar Sekaligus


Nilai tukar rupiah sedang kuat pada perdagangan Rabu (22/7/2020), setelah tertekan dalam beberapa pekan terakhir. Rupiah hari ini mampu melibas sekaligus dolar Amerika Serikat (AS), Singapura, dan Australia.

Pada pukul 11:00 WIB, rupiah mampu menguat 0,2% melawan dolar AS ke Rp 14.650/US$, di pembukaan perdagangan bahkan penguatan tercatat sebesar 0,54%, berdasarkan data Refinitiv.

Kemarin, rupiah juga menguat 0,2%, tetapi di awal pekan, rupiah sempat ambrol 1,44% ke Rp 14.830/US$ yang menjadi level terlemah 2 bulan, tepatnya sejak 19 Mei lalu.

Jika melihat lebih ke belakang, rupiah mengalami tekanan yang cukup besar di bulan ini. Sepanjang Juli hingga Senin lalu, rupiah melemah nyaris 4%. Bahkan jika dilihat level Rp 14.830/US$ yang disentuh, Mata Uang Garuda merosot 4,66%.

Sementara itu melawan dolar Singapura, rupiah mampu menguat 0,23% ke Rp 10.588,23/SG$. Dalam 2 hari terakhir, rupiah melemah 0,72% dan 0,23%. Bahkan sepanjang pekan lalu ketika Singapura resmi mengalami resesi, rupiah malah melemah 1,85%.

Dolar Australia menjadi perkasa setelah Gubernur Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) Philip Lowe, yang tidak mempermasalahkan posisi nilai tukar dolar Australia.Dolar Australia menjadi mata uang yang paling alot dikalahkan rupiah. Menjelang tengah hari, rupiah hanya mampu menguat 0,06% ke Rp 10.452,76/AU$. Kemarin, rupiah menyentuh level terlemah dalam 1,5 tahun terakhir atau tepatnya sejak Desember 2018, setelah melemah nyaris 1% dalam 2 hari perdagangan.

Nilai tukar dolar Australia melawan dolar AS berada di atas 0,7/US$ dan berada di dekat level tertinggi 6 bulan. Gubernur Lowe saat berbicara pagi tadi posisi nilai tukar dolar Australia sudah sesuai dengan fundamentalnya, yang membuat Mata Uang Kanguru menjadi perkasa, termasuk melawan rupiah.

Salah satu penyebab pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir adalah mundurnya pembagian deviden perusahaan-perusahaan akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Seharusnya pembagian deviden tersebut dilakukan pada akhir kuartal II-2020, mundur menjadi bulan Juli.

Saat deviden dibagikan, khususnya ke investor asing, maka akan direpatriasi sehingga terjadi aliran modal keluar yang membuat rupiah tertekan. Rata-rata deviden yang direpatriasi setiap kuartalnya sebesar US$ 6 miliar.

Sementara itu sentimen pelaku pasar yang sedang membaik  menyambut perkembangan vaksin virus corona membuat rupiah perkasa hari ini.
Hasil uji coba awal terhadap tiga kandidat vaksin corona menunjukkan hasil yang positif.

Vaksin pertama adalah yang diproduksi oleh AstraZaneca bekerja sama dengan Oxford University. Hasil uji coba menunjukkan bahwa imun tubuh responden bekerja dengan baik tanpa efek samping yang signifikan.

Kedua adalah vaksin buatan CanSiono Biologics dan divisi riset militer China. Dari 508 orang relawan yang diuji coba, sebagian besar membuahkan hasil positif. Imun tubuh meningkat dan tidak ada efek samping yang berlebihan.

Ketiga adalah kolaborasi BioNTech dan Pfizer yang melakukan uji coba terhadap vaksin yang menggunakan Ribonucleic Acid (RNA). Vaksin mendorong sel untuk membuat protein yang menyerupai bentuk luar virus corona. Kemudian materi ini akan dianggap sebagai benda asing yang kemudian ditangkal oleh sistem imun sehingga akan ampuh untuk menghadapi virus yang sesungguhnya.

"Pekan ini, ada kabar gembira karena vaksin memberi harapan. Optimisme pelaku pasar meningkat," sebut Felicity Emmet dari ANZ Research, seperti dikutip dari Reuters.

Sementara itu dari dalam negeri, Presiden Joko Widodo melalui akun Twitternya mengungkapkan bahwa Indonesia akan segera menggelar uji coba vaksin tahap ketiga. Jika berhasil, maka Bio Farma akan memproduksi vaksin dengan kapasitas 100 juta dosis per tahun.

Pengumuman tersebut memberikan harapan virus corona akan berhasil diredam, hidup kembali normal, dan roda perekonomian kembali berputar. Rupiah pun kembali perkasa.[cnbcindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan