Menkop Teten: RI Pemasok Rajungan Terbesar di Dunia


Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, sesuai arahan Presiden Jokowi, setiap daerah harus mampu mengembangkan sumber daya yang dimiliki masing-masing daerah sebagai produk unggulan dan khas daerahnya.

"Sebagai pemasok rajungan terbesar di dunia dan masih bisa dikembangkan, Lampung kita targetkan untuk menjadi prioritas untuk dikembangkan untuk produk perikanan dan kelautan", ungkap Teten dilansir dari keterangan tertulis, Minggu (26/7/2020).

Apalagi, berdasarkan data FAO 2020, konsumsi ikan dunia per kapita meningkat 3%. "Jadi, Lampung berpotensi untuk terus dikembangkan. Tinggal model bisnisnya saja yang kita integrasikan, terutama terintegrasi dengan pembiayaan yang mudah", kata Teten.

Dia pun akan turut memperkuat UMKM dalam koridor supply chain. Para nelayan mitra PT Siger Jaya Abadi akan diberi vokasi dan perkuatan modal melalui koperasi. "Dengan menjadi offtaker dari hasil tangkapan para nelayan, sehingga akan semakin memperkokoh industri olahan rajungan yang mampu menyerap tenaga kerja banyak", tegasnya.

Yang jelas, Teten akan terus mengembangkan supply chain dari PT Siger Jaya Abadi. Pihaknya jauh lebih mudah mengembangkan UMKM yang produknya sudah ada yang menampung atau menyerap."PT Siger Jaya Abadi harus juga menghidupkan dan membesarkan pelaku usaha kecil", tukasnya.

Untuk itu, Teten pun meminta Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM untuk memperkuat permodalan KSPPS BTM Bina Masyarakat Utama (Bimu), di mana 400 nelayan anggotanya menjadi supply chain PT Siger Jaya Abadi sebagai pemasok rajungan.

Dalam kesempatan yang sama, Dirut LPDB KUMKM Supomo menjelaskan bahwa KSPPS BTM Bimu merupakan mitra LPDB yang pada 2019 lalu sudah mendapat dana bergulir sebesar Rp5 miliar. "Dalam program PEN, mereka mengajukan kembali proposal dana bergulir untuk perkuatan permodalan KSPPS BTM Bimu untuk para nelayan pemasok rajungan ke PT Siger", kata Supomo.

Sementara itu, Dirut PT Siger Jaya Abadi Yoga Sadana mengatakan, perusahaannya yang sudah sembilan tahun memproduksi produk pasteurisasi rajungan. "Kita sudah ekspor ke AS, Eropa, China, dan Korea", jelas Yoga.

Dalam 2-3 bulan terakhir, lanjut Yoga, pihaknya sudah menerapkan bisnis model yang baru. Biasanya, mereka ekspor melalui perantara buyer di luar negeri, kini sudah mengembangkan pasar ekspor secara langsung.

"Ke depan, kami akan menciptakan value added yang lebih tinggi dari produk rajungan. Misalnya, produk rajungan kalengan, dan sebagainya", tukas Yoga.

Sedangkan Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Halim berharap terkait supply chain, perusahaan harus lebih 'care' dengan nasib dan kehidupan para nelayan. "Nelayan sebagai pemasok rajungan selalu butuh pendampingan. Sejak 2016, saya secara penuh mendampingi nelayan", pungkas Chusnunia.[okezone.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan