Telan Dana Rp 278 Miliar, Jembatan Sei Alalak Banjarmasin Rampung Maret 2021


Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pada Rabu (8/7/2020) malam meninjau progres pembangunan Jembatan Sei Alalak sepanjang 850 meter di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dalam tinjauan tersebut, Menteri Basuki mengingatkan untuk memaksimalkan penggunaan komponen dalam negeri untuk bahan material jembatan.

"Utamakan menggunakan produk dalam negeri, jangan terlalu cepat untuk mengimpor bahan material jika masih ada produk dalam negeri walaupun harganya lebih mahal," imbuh Menteri Basuki dalam keterangan resminya, Kamis (9/7/2020).

Dalam tinjauan tersebut, Menteri Basuki juga mengingatkan dalam pembangunannya dilaksanakan sesuai protokol kesehatan Covid-19. Antara lain dengan menjaga jarak fisik, menggunakan masker dan menghindari kerumunan.

"Kondisi sekarang ini disebut sebagai The New Normal, dimana harus bisa bertahan melewati pandemi ini dengan baik dan dapat mengantisipasinya dalam pelaksanaan pekerjaan," ujar dia.

Jembatan Sei Alalak akan menggantikan Jembatan Kayu Tangi 1 yang telah berusia sekitar 30 tahun dan menjadi jalur utama yang menghubungkan Banjarmasin dengan berbagai wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Penyelesaian jembatan tersebut diharapkan juga dapat mendukung percepatan pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Bentang utama jembatan Sei Alalak dirancang dengan menggunakan cable-stayed dan struktur jembatan lengkung dan pertama di Indonesia.

Pekerjaan Jembatan Sei Alalak mengunakan dana dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) senilai Rp 278 miliar dengan kontraktor PT Wijaya Karya (Persero) Tbk-PT Pandji (kerja sama operasi/KSO) dengan skema pekerjaan tahun jamak (multiyears).

Progres Konstruksi

Saat ini progres konstruksinya telah mencapai 67 persen dengan memasuki tahap pekerjaan bentang utama yakni struktur pylon, backspan, abutment, dan jalan pendekat. Targetnya, pengerjaan jembatan dapat rampung 100 persen pada Maret 2021.

Adapun Jembatan Sei Alalak didesain untuk dapat dilintasi kendaraan dengan tonase maksimal 10 ton, lebih kuat dari struktur jembatan lama Kayu Tangi 1 yang berasal dari rangka baja kelas B dengan kemampuan menahan beban kurang dari 8 ton. Selain itu, juga telah diperhitungkan kekuatan jembatan ini dengan konstruksi tahan gempa, dan masa layan hingga 100 tahun.

Selama pekerjaan Jembatan Sei Alalak, arus lalu lintas dialihkan ke Jembatan Kayu Tangi 2 dan seiring dengan diselesaikannya pembangunan jembatan tersebut, direncanakan juga akan dilakukan penghapusan (demolisi) Jembatan Kayu Tangi 1.[liputan6.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan