Pada Masa Pandemi Covid-19, Masyarakat Adat Dapat BST Kemensos


Memperingati Hari Masyarakat Adat Sedunia, pada tanggal 9 Agustus setiap tahun. Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Edi Suharto mendampingi Menteri Sosial Juliari P. Batubara dalam Webinar Internasional, di ruang rapat Menteri Sosial, Lt.2, Kementerian Sosial. Webinar dengan tema “Indigenous People in Covid-19 Era”, diselenggarakan oleh Universitas Jember bekerjasama dengan RCE-ESD (Regional Centre of Expertise on Education for Sustainable Development) Asia Pasific.

Menteri Sosial, Juliari P. Batubara, menyampaikan komitmen dan keseriusan pemerintah terhadap komunitas masyarakat adat di Indonesia sangat tinggi.

"Kita memiliki Direktorat  setingkat Eselon II untuk menangani komunitas masyarakat adat, yaitu Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT)", ucap Juliari P. Batubara.

Masyarakat adat termasuk dalam kelompok yang paling rentan dan beresiko akibat pandemi Covid-19. Kurangnya akses informasi tentang virus, pengetahuan  pencegahan dan perlindungan diri dari virus, serta minimnya akses terhadap pelayanan kesehatan, menjadikan kelompok masyarakat adat rentan terhadap pandemi Covid-19. Keterbatasan sumber daya dan melemahnya kondisi perekonomian akibat pandemi Covid-19, juga berdampak terhadap penurunan pendapatan masyarakat adat.

Sebagai Keynote Speaker, Juliari P. Batubara, juga menyampaikan bahwa Kementerian Sosial berkomitmen untuk memastikan Komunitas Adat Terpencil secara khusus masuk dalam skema dan kebijakan Jaring Pengaman Sosial melalui pemberian Bantuan Sosial Tunai (BST) dan pangan pokok. Kendala terkait identitas kependudukan atau Kartu Tanda Penduduk (KTP), diupayakan dengan pemberian kartu identitas sementara bagi masyarakat adat. Sementara proses pembuatan KTP tetap berjalan.

Dalam webinar yang diikuti oleh lebih dari 260 peserta yang berasal dari berbagai negara tersebut, Mensos berharap semoga akan muncul ide-ide segar untuk pemberdayaan komunitas adat terpencil di Indonesia kedepan.

Selain itu, tujuan diselenggerakannya webinar ini adalah sebagai tempat saling berbagi cerita, pengalaman, dan tantangan dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan membantu para warga Komunitas Adat Terpencil yang tersebar di beberapa negara untuk mengatasi permasalahan akibat adanya pandemi Covid-19.

Turut hadir dalam kegiatan Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, Rektor Universitas Jember, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Dosen Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa Jepang, Rektor Universitas Islam Internasional Malaysia dan pembicara panel webinar perwakilan dari RCE UGM, RCE Universitas Jember, RCE Kalimantan Timur, RCE Jawa Timur, RCE Waikato Newzeland, RCE Greater Gombam Malaysia, RCE India, RCE Sakin Nakhon Thailand, RCE Philippines, RCE Srinagar, RCE Kyrgyzstan, dan RCE Bangladesh.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan