Per 1 Oktober, Uang Rp 75.000 Edisi Khusus Bisa Ditukar di 408 Cabang Bank Mandiri


PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bakal memfasilitasi penukaran uang rupiah baru pecahan Rp 75.000 di 408 kantor cabangnya di seluruh Indonesia. Penukaran bisa dilakukan mulai 1 Oktober 2020.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan, pemesanan uang baru Rp 75.000 saat ini hanya dilayani langsung oleh Bank Indonesia (BI) sampai 30 September 2020. Dia menganjurkan masyarakat yang mau melakukan penukaran untuk berkunjung ke portal pintar.bi.go.id.

"Jadi teman-teman bisa melakukan penukaran lewat online yang disiapkan Bank Indonesia tadi. Di sini karena jumlah terbatas setiap 1 lembar (uang Rp 75.000) 1 nomor KTP," imbuh Hery dalam sesi teleconference, Rabu (19/8/2020).

Hery mengungkapkan, untuk penukaran tahap pertama ini tidak ada alokasi untuk bank umum. Baru pada 1 Oktober 2020, BI menunjuk 5 bank umum untuk melayani penukaran uang edisi spesial 75 tahun kemerdekaan RI tersebut, salah satunya Bank Mandiri.

"Penukaran tahap II 1 Oktober sampe selesai, nanti Bank Mandiri sediakan 408 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Jadi sekarang belum bisa, nanti setelah September bapak-ibu ingin menukar bisa datang," tuturnya.

"Nanti penjatahan sesuai dengan minat dari nasabah yang ingin menukar. Kumpulkan dulu minatnya, nanti Mandiri akan minta ke BI sesuai jatah yang diperlukan," dia menambahkan.

Uang Rp 75.000 Edisi Khusus Bisa Jadi Koleksi Masyarakat

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi mengatakan Uang Pecahan Kemerdekaan Rp 75.000 boleh dijadikan benda koleksi oleh masyarakat. Mengingat uang nominal tersebut hanya dicetak terbatas oleh Bank Indonesia yakni sebanyak 75 juta lembar.

"Kalau tidak dibelanjakan atau dimiliki sendiri ya mangga (silakan) kalau mau dikoleksi," kata Rosmaya dalam Taklimat Media, bertajuk 'Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia', Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Selain dicetak terbatas 75 juta lembar, uang edisi kemerdekaan juga hanya dicetak setiap 25 tahun sekali. Meski sebagai uang edisi khusus, namun Uang Pecahan Kemerdekaan Rp 75.000 ini merupakan alat pembayaran yang saha.

"Karena ini dicetak terbatas 75 juta untuk yang memiliki KTP, yang terbit setiap 25 tahun sekali," kata Rosmaya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan secara resmi menerbitkan mata uang baru pecahan sebesar Rp75.000 secara virtual. Peluncuran mata uang ini bertepatan dengan peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pecahan mata uang ini berbentuk kertas dengan nominal Rp75.000. Jumlah yang akan dicetak sebanyak 75 juta lembar. Uang ini resmi menjadi alat pembayaran yang sah.

"Sebagai bentuk wujud syukur kita atas anugerah kemerdekaan dan pencapaian-pencapaian yang telah kita lakukan selama 75 tahun Kemerdekaan Indonesia maka pengeluaran uang rupiah dalam rangka peringatan khusus kemerdekaan Republik Indonesia bertepatan dengan tanggal 17 Agustus tahun 2020," kata Sri Mulyani dalam acara peluncuran, Senin (17/8).

Viral Uang Baru Rp 75.000 ada Unsur Budaya China, Ini Penjelasan BI

Ramai di media sosial yang menyebut ada gambar pakaian adat suku China di Uang Peringatan Kemerdekaan (UPK) Rp 75.000. Menanggapi itu, Bank Indonesia menjelaskan, pakaian adat tersebut berasal dari Suku Tidung yang ada di Kalimantan Utara.

"Yang dari tengah seperti dari Tiongkok itu baju asal Kalimantan Utara, baju adat suku Tidung," kata Kepala Departemen Pengelolaan Uang, Bank Indonesia, Marlison Hakim, dalam Taklimat Media Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Marlison menjelaskan pemilihan jenis pakaian adat yang ada di uang tersebut tersebut merupakan hasil rekomendasi langsung dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara. Hasil rekomendasi tersebut pun sebelumnya telah didiskusikan oleh Bank Indonesia dengan sejumlah pihak.

Mulai dari budayawan, sejarawan sampai dengan Pemerintah Daerah setempat. Proses desain UPK edisis 75 tahun Kemerdekaan Indonesia ini juga telah dirancang sejak tahun 2018.

"Khusus pemilihan itu (jenis baju adat) kita bicarakan dengan budayawan, sejarawan dan Pemda setempat dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan UPT Suku Tidung dan mereka yang memberikan baju adat Kalimantan Utara tersebut," kata Marlison menjelaskan.

Untuk itu dia menegaskan, pakaian adat suku tidung di uang tersebut asli dari salah satu suku yang ada di Indonesia. Dia menambahkan, masyarakat bisa mencari tahu sendiri kebenarannya dari berbagai informasi yang ada di mesin pencari.

"Jadi bukan dari Tiongkok, ini asli dari Indonesia," kata dia mengakhiri.[liputan6.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan