RI-Turki Jajaki Kerja Sama Pengembangan Pesawat hingga Vaksin Corona


Indonesia dan Turki telah melakukan penjajakan untuk kerja sama potensial dan memperkuat bilateral kedua negara untuk bidang riset dan inovasi. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan ada tiga usulan di bidang riset dan inovasi yang potensial.

Misalnya rencana kolaborasi riset dan pengembangan vaksin COVID-19 baik skema mandiri berdasarkan litbangjirap dan skema uji klinis dari vaksin COVID-19.

"Kerja sama pengembangan industri kedirgantaraan antara lain kerja sama pesawat N-219 dan R-80 dan kerja sama di bidang ruang angkasa untuk pengembangan teknologi satelit dan pengembangan airport untuk peluncuran satelit," kata Bambang dalam keterangan resmi, Sabtu (1/8/2020).

Hubungan kerja sama Indonesia dan Turki dalam bidang kedirgantaraan sudah terjalin sejak lama. Diketahui melalui Duta Besar Indonesia untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal, Turki telah melakukan pendekatan secara politis kepada Indonesia untuk melakukan kerja sama pengembangan civilian aircraft project atas pesawat tipe N-219, N-245, dan R-80.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Elfien Goentoro, menjelaskan bahwa saat ini PT DI telah memiliki MoU dalam bidang manufaktur dan produksi bagian pesawat tipe N-219 dan N-245 dengan Turki, yang mana saat ini pengembangan pesawat N-219 sudah siap untuk tahap komersialisasi.

Sementara itu untuk proyek pesawat R-80, Direktur Utama PT Regio Aviasai Indonesia (RAI), Agung Nugroho, mengenang masa-masa pertama kali PT RAI didirikan pada tahun 2012, Turki adalah negara pertama yang dikunjungi Pendiri PT RAI saat itu (alm.) Prof. BJ Habibie, Menristek RI dan Presiden RI ke-3 saat itu, untuk melakukan penjajakan kerja sama teknologi mesin pesawat. Lebih lanjut Agung mengatakan bahwa pesawat R-80 saat ini sudah mampu memenuhi kapasitas penumpang 90-100 orang.

Berbeda halnya dengan Indonesia, industri kedirgantaraan Turki memang memprioritaskan pengembangan dan produksi pesawat tempur untuk kebutuhan militer negaranya, mengingat Turki termasuk negara maju di kawasan untuk bidang pengembangan teknologi pesawat tempur.

Presiden Turkish Aerospace Industry (TAI) mengatakan bahwa dirinya melihat adanya potensi besar untuk dapat mengkolaborasikan kepentingan Turki dan Indonesia, sehingga Turki ke depannya dapat mengembangkan program passenger aircraft military program. Akan tetapi, Menteri Turki tetap akan melihat kemungkinan kerja sama untuk pengembangan pesawat penumpang dengan Indonesia.

Selanjutnya, diterangkan oleh PTDI bahwa Indonesia akan mencoba memasuki pasar komersil terhadap pesawat N-219 yang lebih besar untuk penggunaannya di wilayah Eropa, melalui langkah awal sertifikasi pesawat RI-68, RI-80 dan R-90 di Turki.

Vaksin COVID

Sebelum pandemi COVID-19, Turki telah mengembangkan sebuah platform khusus di bawah koordinasi Kementerian Industri dan Teknologi Turki, melalui TUBITAK Genetic and Biotechnology Institute. Direktur TUBITAK, Prof. Dr. Hasan Mandal, menginformasikan dalam paparannya bahwa saat ini Turki telah melakukan riset dan pengembangan terhadap 8 model vaksin dan 10 obat yang di antaranya 2 vaksin telah selesai proses percobaan pada hewan (animal testing), selebihnya sedang proses dan akan menuju animal testing.

Terhadap 2 vaksin COVID-19 yang telah selesai pada tahapan animal testing, TUBITAK Turki saat ini sedang menunggu izin dari Kementerian Kesehatan Turki untuk dapat memasuki tahapan clinical testing.

"Turki saat ini berada dalam urutan ke-3, setelah Tiongkok dan Amerika Serikat, sebagai kandidat negara dengan angka total kandidat vaksin tertinggi di dunia, berdasarkan data publikasi WHO per 24 Juli 2020," jelas Menteri Mustafa Varank.

Indonesia diketahui saat ini akan segera memasuki tahapan clinical testing melalui kolaborasi dengan Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman dan PT Bio Farma dengan produk Sinovac dan Sinopharm.

Kemenristek menyebutkan ada potensi besar untuk kolaborasi antara Indonesia dan Turki untuk pengembangan vaksin COVID-19 dengan menggandeng LBM Eijkman, PT Bio Farma, dan TUBITAK.

Pengembangan Teknologi Ruang Angkasa

Direktur Turkish Space Agency, Serdar Huseyin Yildirim, dalam paparan singkat menginformasikan bahwa Turki memiliki teknologi satelit yang sangat maju di kawasan dengan tiga kategori aktivitas satelit di antaranya satelit komunikasi, observasi bumi, dan satelit saintifik atau eksperimental.

Sampai saat ini terdapat 9 satelit komunikasi, 7 satelit observasi bumi, dan 6 satelit untuk eksperimentasi. Sementara sejumlah 3 satelit masing-masing di antaranya sedang dalam tahapan pengembangan.

Indonesia melalui LAPAN tengah menjalankan proyek pembangunan Bandara Antariksa pertama di Biak yang sedang dalam tahap pengkajian oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Bambang menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di Biak, dikarenakan wilayah ini paling dekat dengan ekuator, pada titik satu derajat LS dan berhadapan dengan Samudera Pasifik.

Lebih lanjut Bambang menyambut baik ketertarikan Turki dalam proyek pembangunan bandara antariksa ini, dan mengharapkan Indonesia dapat melakukan joint collaboration dengan Turki untuk dapat mengembangkan level bandara angkasa ini dari nasional menjadi internasional.

Di samping itu, BPPT menginformasikan pengembangan kerja sama dengan Turki dalam bidang UAV dan perkeretaapian, yang juga merupakan bidang-bidang yang potensial untuk dikembangkan bersama.[detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan