Covid-19 tak Terkendali, Airlangga Soroti Ganjil-Genap di DKI

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto menyoroti pemberlakuan pengendalian moda transportasi meliputi kendaraan bermotor pribadi beroperasi dengan prinsip ganjil genap pada kawasan pengendalian lalu lintas oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Menurut Airlangga, kebijakan itu telah mengakibatkan lonjakan kasus konfirmasi positif Covid-19 di ibu kota. Demikian disampaikan Airlangga dalam rapat koordinasi nasional Kadin Indonesia bidang perindustrian, perdagangan, dan hubungan internasional secara virtual, Kamis (10/9/2020).

"DKI melakukan PSBB penuh, PSBB transisi, dikenakan penuh kembali karena sebagian besar dari yang terpapar berdasarkan data yang ada, 62% di Rumah Sakit Kemayoran (RS Darurat di Wisma Atlet) basisnya akibat transportasi umum. Sehingga beberapa kebijakan yang perlu dievaluasi, termasuk terkait ganjil-genap," katanya.

Menurut Airlangga, hal tersebut sudah disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sekadar gambaran, kebijakan ganjil-genap tidak diberlakukan pada awal-awal PSBB. Namun, memasuki bulan Agustus, Anies Baswedan kembali menerapkan kebijakan tersebut. Alasannya karena saat itu, data menunjukkan kasus Covid-19 selama 2 pekan kondisinya relatif sama di DKI Jakarta.

Sayang, sebulan kemudian, ada harga yang harus dibayar mahal. Hingga kemarin, sudah ada 48.393 kasus konfirmasi positif. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, penambahan jumlah kasus Covid-19 terus berada di atas 1.000 kasus per hari.

Oleh karena itu, Anies pun memutuskan untuk menarik rem darurat dengan menerapkan PSBB secara total. Lalu, bagaimana dengan ganjil genap?

"Ganjil genap ditiadakan, tapi bukan berarti bebas dengan berkendaraan pribadi," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Rabu (9/9/2020.

Ia juga meminta warga ibu kota jangan keluar Jakarta bila tidak ada keperluan yang sangat mendesak.


Per 8 Agustus, jumlah pasien positif corona di DKI Jakarta mencapai 48.393 orang, bertambah 1.014 orang (2,14%) dibandingkan sehari sebelumnya. Dalam 14 hari terakhir (26 Agustus-8 September), rata-rata pasien baru bertambah 975,21 orang per hari. Melonjak dibandingkan 14 hari sebelumnya yakni 579,71 orang. [cnbcindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan