Erick Thohir Patok 70 Persen Penduduk Dapat Vaksin Corona


Pemerintah menargetkan dapat memberikan vaksin covid-19 kepada 70 persen penduduk Indonesia secara massal pada 2021. Itu berarti, sebanyak 161 juta orang penduduk ditargetkan menerima vaksin dengan asumsi jumlah penduduk 230 juta.

"Kita dengan penduduk 230 juta, kami baru memfokuskan untuk mendapatkan 70 persen," ujar Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) Erick Thohir, usai rapat bersama IDI dan PPNI, Kamis (3/9).

Jumlah tersebut, kata dia, mengecualikan penduduk dengan usia 18 tahun. Pasalnya, pemerintah belum melakukan uji coba klinis kepada penduduk usia tersebut.

Selain itu, penduduk usia 18 tahun dinilai memiliki daya tahan tubuh sangat bagus.

"Tapi, bukan berarti nanti generasi muda dikorbankan, bukan. Ini nanti ada yang melintir generasi muda dikorbankan," ujarnya.

Pemberian vaksin nantinya, lanjut Erick, akan dilakukan oleh 1,5 juta dokter, perawat, dan bidan. Dalam hal ini, pemerintah akan bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk mendapatkan data tenaga kesehatan tersebut.

Termasuk penentuan kriteria dokter, perawat, dan bidan yang akan melakukan imunisasi.

"Ini menjadi kekuatan kami untuk nanti melakukan imunisasi massal atau vaksinasi massal awal tahun yang kami usahakan lebih cepat lagi kalau bisa. 1,5 juta ini yang harus mendapatkan vaksin duluan karena beliau ini yang terdepan," ujarnya.

Sebelumnya, Erick yang juga menjabat sebagai Menteri BUMN itu menargetkan program imunisasi massal bisa dilakukan awal 2021 mendatang. Untuk pengadaan vaksin covid-19 ini pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp18 triliun.

Saat ini, pemerintah terus mengembangkan vaksin baik secara mandiri maupun kerja sama dengan pihak asing. Misalnya, PT Bio Farma (Persero) tengah melakukan uji coba tahap ketiga vaksin covid-19. Perusahaan BUMN kesehatan itu bekerja sama dengan produsen vaksin asal China, Sinovac dalam pengembangan vaksin.

Lalu, PT Kimia Farma (Persero) dan PT Indo Farma (Persero) dengan perusahaan teknologi kesehatan asal Uni Emirat Arab, G42. Secara mandiri, Indonesia juga tengah mengembangkan vaksin Merah Putih oleh LBME Eijkman.[cnnindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan