Menristek Tegaskan Mutasi Corona D614G Tak Lebih Ganas dan Menular


Heboh mutasi virus Corona D614G yang disebut 10 kali lebih menular. Prof Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset dan Teknologi ikut menanggapi mutasi D614G yang tengah heboh diperbincangkan. Ia mengaku sudah berbicara kepada presiden GISAID, bank yang mengumpulkan data-data whole genome sequencing (WGS).

Mutasi virus Corona ini disebut-sebut 10 kali lebih menular dan menjadi dominan yang ditemukan di dunia. Namun, Prof Bambang menegaskan tidak ada bukti bahwa mutasi ini bisa memperparah penyakit COVID-19 maupun membuatnya lebih menular.

"Kami baru saja melakukan komunikasi dengan presiden GISAID yang melakukan analsis ini. Tidak ada bukti, belum ada bukti yang menyatakan bahwa mutasi D614G ini lebih ganas atau lebih berbahaya," tegasnya dalam siaran pers BNPB Rabu (2/8/2020).

Prof Bambang menjelaskan mutasi virus Corona D614G ini telah ditemukan sejak Januari. Mutasi virus Corona ini awalnya ditemukan di Jerman dan China.

"Perlu kami sampaikan bahwa mutasi ini, SARS-CoV-2 dalam bentuk D614G pertama kali ditemukan Januari 2020 di Jerman dan China, dan saat ini kalau melihat seluruh whole genome sequencing yang sudah ada di GISAID pada dasarnya sudah sekitar 78 persen yang punya mutasi ini," bebernya.

Menurut Prof Bambang mutasi ini artinya sudah mendominasi virus sendiri. Prof Bambang juga menekankan perubahan mutasi tidak mengganggu pengembangan vaksin.

"Mutasi ini tidak menyebabkan perubahan struktur maupun fungsi pada protein blinding domain sehingga tidak mengganggu pengembangan vaksin," sebutnya.[detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan