321.222 Ton Beras Bansos Sudah Tersalurkan ke Masyarakat

Perum Bulog mencatat hingga 14 Oktober 2020, Bulog telah menyalurkan Beras Bansos sebanyak 321.222 ton atau 71 persen dari pagu 3 alokasi.

Bulog memastikan terus berkomitmen untuk memaksimalkan penyaluran program Bansos Beras kepada Keluarga Penerima Manfaat. Serta memastikan kualitas dan kuantitas beras di pintu gudang Bulog di seluruh wilayah Indonesia terjaga.

Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog Bachtiar menyatakan, pihaknya sudah menyediakan stok beras sesuai kualitas yang ditentukan untuk program Bansos Beras ini.

"Memperhatikan realisasi tersebut maka masih tersisa sebesar 128.778 ton untuk segera disalurkan, untuk itu perlu percepatan penyaluran Bansos Beras ini pada sisa hari di bulan Oktober ini," kata Bachtiar dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2020).

Adapun, Perum Bulog menerima kunjungan kerja masa reses I Komisi IV DPR di Subang, Jawa Barat. Kedatangan DPR ialah guna meninjau langsung kualitas beras untuk program Bansos tahun 2020 dari Kemensos di wilayah tersebut.

Pastikan Tak Ada Penyelewengan

Pimpinan Komisi IV DPR Dedi Mulyadi menjelaskan, kunjungan kerja kali ini difokuskan untuk meninjau langsung dan memastikan tidak ada penyelewengan dalam penyaluran bansos beras Keluarga Penerima Manfaat di wilayah Jabar.

Seperti yang diketahui, telah beredar berita tentang beras bansos yang tercampur biji plastik di wilayah Jabar yang sedang di usut oleh Kejaksaan Negeri setempat.

“Kita sudah cek langsung kondisinya di gudang Bulog tidak ada beras plastik dan tadi sudah dijelaskan oleh Direksi BULOG bahwa isu beras plastik dipastikan dilakukan oleh oknum yang terganggu karena penyaluran bansos ini menggunakanan beras Bulog bukan beras mereka, serta kita mendorong Kejaksaan segera mengungkap oknum tersebut," ujar Dedi.

Di samping itu, Tim monitoring dan evaluasi Bulog terus berkerjasama dengan Kejaksaan Negeri setempat untuk mengusut laporan masyarakat terkait penemuan biji plastik dalam beras bansos.

Bulog dengan tegas meyakinkan, beras yang tercampur dengan biji plastik bukan berasal darinya.

Lebih lanjut Dedi menjelaskan Perum Bulog harus didorong untuk terus bisa menyediakan stok beras berkualitas untuk program-program pemerintah.

"Sehingga stok Bulog ini bisa berputar dan bisa terus menyerap beras hasil panen petani," katanya.[liputan6.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan