Kementerian Sosial Lakukan Respon Kasus Anak Dalam Situasi Darurat di Cianjur

Kementerian Sosial melalui Balai Anak Handayani Jakarta kembali mendapatkan informasi mengenai anak dalam situasi darurat di Cianjur, Jawa Barat. Kali ini, informasi diperoleh dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak. 

Dalam informasi tersebut diketahui bahwa terdapat dua anak NM dan RK yang tinggal didalam sebuah gubuk yang tidak layak huni.

Merespon informasi tersebut, Kepala Balai Anak Handayani,  Neni Riawati memberikan arahan dan tugas kepada Pekerja Sosial untuk segera melakukan penelusuran sesuai SOP, melakukan asesmen dan  analisa kebutuhan anak.

Pekerja Sosial Balai Anak Handayani langsung  menuju ke lokasi rumah anak itu, untuk segera merespon kasus tersebut.

Didampingi oleh Kasi Kesra, Rahmat, Poldes, Ahmad Zaenuman, serta pihak Kepolisian, dan TNI, Pekerja Sosial pada akhirnya dapat menemui kedua anak tersebut.

"Berdasarkan hasil asesmen, diketahui bahwa NM dan RK tinggal bersama kedua orangtuanya di gubuk yang dibuat sendiri oleh ayahnya dari terpal bekas spanduk dan kain yang sudah tidak terpakai yang merupakan pemberian dari warga sekitar,"ungkap  Kepala Balai Anak Handayani,  Neni Riawati dalam keterangannya yang diterima RRI, Selasa,(27/10/2020).

NM dan RK berusia 4 tahun dan 4,5 bulan. Mereka sebenarnya bukan warga asli setempat dan tinggal di tanah milik perhutani.

Ayah kedua anak tersebut tidak bekerja dan hanya mengandalkan kemampuan bercocok tanam.

Namun karena menderita sakit asam urat dan lambung sehingga yang mencari nafkah adalah ibunya dengan berjualan sayuran milik warga dengan hasil dibagi dua. 

"Setiap hari kedua anak tersebut ikut berjualan bersama Ibunya dan tidak mau ditinggalkan bersama ayahnya. Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan penghasilan dari ibunya dan belas kasihan warga sekitar,"jelas Neni.

Dikatakannya juga, pandemi Covid-19 ini  membuat orangtua NM dan RK semakin kesulitan untuk mencari nafkah. Orangtua kedua anak tersebut saat ini belum mempunyai kartu keluarga, akte kelahiran dan tidak mempunyai surat nikah. 

Sakti peksos sudah melakukan koordinasi dengan pihak desa setempat untuk pengurusan kependudukannya dan saat ini masih dalam proses pembuatan. NM dan RK hingga saat ini belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah dikarenakan tidak tercatat pada berkas kependudukan.

"Ketika dilakukan penggalian kepada ibu NM dan RK,  diketahui bahwa ibunya pernah mendapat perlakuan kekerasan dari  suaminya,  namun saat ini sudah tidak melakukan kekerasan karena sudah dilakukan pengawasan oleh pihak terkait ke rumahnya. NM dan RK tidak pernah bermain bersama teman-teman sebayanya karena selalu mengikuti Ibunya yang berjualan,"papar Neni.

NM dan RK diberikan bantuan pemenuhan gizi dan nutrisi berupa susu, vitamin, biskuit, makanan pendukung lainnya, tempat tidur busa, bantal dan guling. Selanjutnya akan dilakukan monitoring berkala kepada anak tersebut. 

"Balai Anak Handayani juga telah berkoordinasi dengan Sakti Peksos dan Dinas Sosial setempat untuk bersama melalukan perlindungan dan pendampingan bagi kedua anak,"pungkasnya.[rri.co.id]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan