JK Bicara Kekosongan Kepemimpinan soal Fenomena HRS, Mahfud Bilang Begini

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md berkomentar soal pernyataan Jusuf Kalla (JK) tentang fenomena Habib Rizieq Shihab dan kekosongan kepemimpinan. Mahfud setuju dengan JK soal kekosongan kepemimpinan, namun konteksnya kepemimpinan Islam di Indonesia, bukan kepemimpinan formal.

Awalnya, Mahfud bercerita soal aksi 411 dan 212 pada 2016 yang digawangi oleh Habib Rizieq. Namun massa aksi di Monas itu bukan hanya anggota FPI atau pendukung Habib Rizieq.

"Ketika empat tahun lalu, 2016, terjadi aksi besar 411, dan 212. Melalui ILC tvOne, saya bilang, umat yang ikut membanjiri demo itu bukan karena pengikut FPI atau MRS (Muhammad Rizieq Shihab), tapi karena numpang protes melalui orang yang berani bernahi munkar (melarang berbuat jahat). Mengapa? Karena saat itu, tokoh-tokoh dan ormas Islam, lebih banyak beramar makruf (menyuruh berbuat baik). Lihat ILC," kata Mahfud Md dalam akun Twitternya seperti dilihat detikcom, Minggu (13/12/2020). Cuitan Mahfud sudah disesuaikan dengan ejaan saat ini.

Terkait pendapat JK soal fenomena Habib Rizieq, Mahfud setuju namun bagi dia kekosongan kepemimpinan itu ada di organisasi Islam, bukan pemimpin formal.

"Dua pekan lalu, saya di-interview oleh satu televisi tentang pernyataan Pak JK bahwa fenomena MRS disebabkan terjadi kekosongan pemimpin Islam. Maka saya jawab, 'Di ILC dulu, saya sudah bilang begitu. Jadi saya setuju dengan Pak JK, terjadi kekosongan peran tokoh dan organisasi Islam, bukan pemimpin formal'," ucapnya.

Sebelumnya, dalam webinar yang diselenggarakan DPP PKS bertajuk 'Partisipasi Masyarakat Sipil dalam Membangun Demokrasi yang Sehat' pada Jumat (20/11) lalu, JK menjadi pembicara dalam webinar itu. JK angkat bicara mengenai fenomena Habib Rizieq yang meluas sehingga melibatkan TNI-Polri.

"Kenapa masalah Habib Rizieq Shihab, begitu hebat permasalahannya sehingga polisi, tentara, turun tangan, sepertinya kita menghadapi sesuatu yang guncangnya yang ada. Kenapa itu terjadi, ini menurut saya karena ada kekosongan kepemimpinan yang dapat menyerap aspirasi masyarakat secara luas," kata JK dalam webinar itu.

"Adanya kekosongan itu, begitu ada pemimpin yang karismatik katakanlah karismatik, begitu, atau ada yang berani memberikan alternatif maka orang mendukungnya. Ini suatu menjadi, suatu masalah, Habib Rizieq itu adalah sesuatu indikator bahwa ada proses yang perlu diperbaiki dalam sistem demokrasi kita," tambah JK.

JK juga berbicara soal pandangannya terkait kenapa banyak orang lebih percaya kepada Habib Rizieq ketimbang partai Islam untuk menyuarakan aspirasinya. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh kekosongan sistem demokrasi dalam ideologi Islam.

"Kenapa ratusan ribu orang itu, begitu, kenapa dia tidak percayai DPR untuk berbicara. Kenapa tidak lebih percaya partai-partai terkhusus partai Islam untuk mewakili masyarakat itu. Kenapa masyarakat memilih Habib Rizieq untuk menyuarakan ya punya aspirasi. Itu pertanyaannya yang sangat penting untuk kita evaluasi, jangka waktu, khususnya PKS dan partai Islam lainnya, bahwa ada kekosongan sistem atau cara kita berdemokrasi, khususnya dalam ideologi keislaman yang kemudian diisi oleh Habib Rizieq, sehingga kita takut bahwa ini nanti demokrasi kembalikan demokrasi yang katakanlah sistem demo macam-macam, dan juga tentu merusak sistem kita semua," tutur JK.

Juru bicara Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah, menjelaskan maksud JK yang bicara mengenai kekosongan kepemimpinan saat membahas Habib Rizieq Syihab (HRS). Husain menyebut konteks pembicara JK itu merujuk ke partai politik berbasis Islam.

"Pak JK menjelaskan fungsi parpol dan anggota parlemen dari partai berbasis Islam. Yang dinilainya kurang menangkap dan menjalankan aspirasi umat, sehingga kekosongan ini yang diisi oleh HRS," ujar Husain saat dimintai konfirmasi, Minggu (22/11). [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan