Stafsus Sri Mulyani: Penambahan Utang RI Salah Satu Paling Kecil di ASEAN

Posisi utang pemerintah terus mengalami pertumbuhan, seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan di tengah pandemi Covid-19.

Bahkan, sampai dengan akhir tahun 2020, posisi utang pemerintah telah mencapai Rp 6.074,56 triliun.

Meskipun demikian, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengatakan, penambahan utang pemerintah jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara anggota Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN).

"Di ASEAN penambahan utang kita paling kecil," kata Yustinus dalam diskusi virtual, Selasa (23/2/2/2021).

Hal tersebut terefleksikan dengan realisasi pelebaran defisit anggaran negara ASEAN pada 2020.

Pada tahun lalu, defisit anggaran Indonesia mencapai 6,09 persen, sementara Malaysia sebesar 6,5 persen, Filipina 8,1 persen, dan Singapura 10,8 persen.

Meskipun demikian, berdasarkan data yang Ia miliki, Thailand dan Vietnam tercatat memiliki defisit anggaran yang lebih rendah dibanding RI, yakni masing-masing sebesar 5,2 persen dan 4 persen.

"Ini sekaligus mengklarifikasi banyak tuduhan seolah-seolah kita ini tukang utang dan utang kita sudah tidak aman. Kita bandingkan ternyata kita relatif lebih baik," ujar Yustinus.

Baca juga: Emak-emak Jadi Salah Satu Pemborong Terbesar Surat Utang Pemerintah ORI019

Selain itu, Yustinus mengklaim, posisi utang Indonesia saat ini masih berada dalam level yang terjaga.

Ini tercermin dari rasio penerimaan terhadap utang RI yang lebih baik dibanding banyak negara.

Saat ini, rasio penerimaan terhadap utang RI sebesar 38,32 persen, lebih tinggi dibanding Malaysia (21,83 persen), Singapura (11,93 persen), Thailand (35,73 persen), Filipina (36,98 persen), dan Brazil (14,05 persen).

"Artinya kita punya kemampuan lebih besar dalam membayar utang," ucap Yustinus.[kompas.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan