TNI AL Selesai Investigasi Seaglider yang Ditemukan di Perairan Selayar

TNI Angkatan Laut (AL) mengaku telah selesai menginvestigasi seaglider yang ditemukan di perairan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada akhir 2020 lalu. Hasil dari investigasi itu akan dilaporkan TNI AL kepada DPR saat rapat dengar pendapat (RDP).

"Sudah rampung (hasil investigasi seaglider di Selayar-red). Dan menunggu kepastian RDP atau arahan lebih lanjut (untuk melaporkan hasil investigasi-red)," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispen AL), Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono, kepada detikcom, Selasa (9/2/2021).

Julius kemudian menuturkan selesainya penyelidikan seaglider tersebut sesuai janji Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono. Julius menuturkan saat seaglider ditemukan, Yudo berjanji pemeriksaannya rampung dalam sebulan.

"KSAL menjanjikan waktu satu bulan dan sudah selesai," sebut Julius.

Julius mengatakan hasil investigasi rencananya akan dibeberkan dalam RDP pada 4 Februari kemarin. Namun, RDP tersebut ditunda. Sampai hari ini, lanjut dia, belum ada kepastian kapan RDP akan digelar.

"Awalnya rencananya itu (hasil investigasi seaglider di Selayar dilaporkan-red) di RDP, itu rencananya tanggal 4 kemarin. RDP mundur, kemudian diubah tanggal 7 atau 9. Belum ada kepastian (jadi atau tidak RDP digelar-red ) sampai hari," terang Julius.

"Tapi kalau Panglima (Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto) mengizinkan untuk sampaikan sendiri, kami sampaikan sendiri," sambung dia.

Sebelumnya diberitakan, seaglider ini ditemukan oleh nelayan bernama Saeruddin (60) pada 26 Desember 2020 pagi hari. Seaglider itu punya dua sayap 50 cm, panjang bodi 225 cm, baling-baling (propeller) 18 cm di bawah, dan panjang antena 93 cm. Ada pula instrumen mirip kamera di bodi.

Seaglider ini dioperasikan untuk menghimpun data oseanografi, bisa digunakan untuk keperluan industri pengeboran, industri perikanan, maupun kepentingan militer dan pertahanan. Yudo menyebut Indonesia tidak punya alat ini.

"Kalau kita tidak punya. Kemungkinan bukan Indonesia," sebut Yudo dalam jumpa pers di Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal), Senin (4/1).

Saat itu Yudi memberi batas waktu 1 bulan kepada Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Kapushidrosal)Laksda Agung Prasetiawan untuk membongkar seaglider tersebut. TNI AL menyatakan tak ada keterangan di badan 'drone laut' ini sejak pertama kali ditemukan.

"Tidak ditemukan ciri-ciri perusahaan negara pembuat. Ini dia, tidak ada tulisan apapun di sini. Jadi awalnya juga demikian. Kita tidak merekayasa, masih persis seperti yang ditemukan nelayan," kata Yudo. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan