Diplomasi Pertahanan Prabowo Diyakini Berdampak Positif ke RI

Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto belakangan ini gencar melakukan diplomasi pertahanan ke berbagai negara di dunia. Tujuannya untuk mencari alat utama sistem persenjataan (alutsista). Paling anyar, kunjungan dilakukan ke Korea Selatan pada 8 April 2021 lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo bertemu dengan Menteri Pertahanan Korea Selatan, Y.M. Suh Wook. Berbagai hal strategis didiskusikan keduanya, di antaranya adalah pertukaran pandangan keamanan regional dan kerja sama bilateral. Prabowo pun berharap dengan kunjungan ini memberi dampak positif hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan di bidang pertahanan, selain itu juga untuk menjaga keamanan, perdamaian, dan stabilitas kawasan.

Sebelum ke Korea Selatan, Prabowo lebih dulu berkunjung ke Jepang pada 28 Maret 2021, Rusia pada 24-25 Maret 2021, dan Inggris pada 22-24 Maret 2021. Berbagai kunjungan tersebut pun menghasilkan berbagai hal positif.

Dengan Jepang Misalnya, Prabowo bertemu Menteri Pertahanan Jepang H.E. Nobuo Kishi, di Tokyo, Jepang. Kedua Menhan ini saling bertukar pandangan mengenai isu-isu keamanan regional dan kerja sama pertahanan serta menegaskan kembali upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Ada juga kesepakatan untuk mengadakan dialog Military to Military, melanjutkan kerja sama alutsista dan teknologi serta meningkatkan kerja sama service to service.

Selanjutnya di Rusia Prabowo bertemu dengan Deputy Defence Minister of the Russian Federation - Head of the Main Military-Political Directorate of the Armed Forces of the Russian Federation, Colonel General Andrei Kartapolov membahas tentang kemungkinan pengembangan teknis kerja sama militer kedua negara dan mengungkapkan kesepahaman atas keinginan yang sama dalam meningkatkan kerja sama pertahanan kedua negara.

Lalu di Inggris, Prabowo bertemu dengan Menteri Pertahanan Inggris The Rt Hon Ben Wallace MP dan Utusan Khusus Perdagangan PM Inggris / anggota parlemen, Richard Graham MP. Dalam pertemuan itu terjadi pembahasan mengenai upaya-upaya dan peluang untuk lebih meningkatkan kerja sama bilateral pertahanan RI-Inggris. Keduanya juga membahas peran kedua negara dalam kerja sama di kawasan dan di tingkat global.

Usaha diplomasi dengan negara tersebut diyakini dapat memberi dampak positif terhadap posisi Indonesia di peta geopolitik Asia Pasifik. Hal tersebut diungkapkan oleh Pengamat Militer dan Intelijen, Susaningtyas Kertopati yang mengatakan Indonesia berada di titik tumpu Pasifik dan Samudera Hindia.

"Dari sudut pandang geopolitik dan geostrategis, posisi strategis Indonesia berada di titik tumpu Pasifik dan Samudera Hindia. Terkait dengan pergeseran konsep AS soal 'Indo-Pacific', ini memberi arti bahwa Indonesia harus siap menjadi sebuah kekuatan regional yang signifikan," katanya ketika dihubungi detikcom, Selasa (13/4/2021).

Selain itu menurutnya pertukaran informasi mengenai geopolitik maupun perkembangan teknologi pertahanan akan memberikan effort yang luas bagi sistem pertahanan Indonesia.

"Mengingat perang ke depan masuk jaman perang hibrida (militer, nirmiliter, nonmiliter). Wabah COVID-19 merupakan ancaman nirmiliter. Ancaman nirmiliter berbeda dengan ancaman militer dan ancaman nonmiliter. Ketiganya kini dikenal sebagai ancaman hibrida dan telah merubah perspektif ancaman di masa mendatang," lanjutnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan senjata biologi dan pertahanan negara anti senjata biologi merupakan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai TNI. Pada masa depan ancaman nubika (nuklir, biologi, kimia) harus masuk dalam kewaspadaan Indonesia. Para Prajurit TNI kini dituntut memiliki kemampuan tempur konvensional dan kemampuan tempur kontemporer.

"Bagaimana Indonesia menjalankan peran ini, jelas akan memiliki dampak yang berkesinambungan terhadap arsitektur politik dan militer pertahanan kawasan," ungkapnya.

Ia juga mengomentari pertemuan dengan Korea Selatan yang baru saja dilaksanakan Prabowo. Menurutnya kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan untuk pembuatan pesawat tempur sudah dimulai sejak era Presiden SBY dan kerja sama ini satu paket dengan pembuatan kapal selam.

"Dalam konsep perang udara di masa mendatang, perlunya TNI meningkatkan kemampuan Tempurnya tidak saja di ruang udara (airspace) tetapi juga di ruang angkasa (outerspace). Baik ruang udara maupun ruang angkasa, keduanya merupakan kedaulatan udara NKRI. Tentu saja transfer teknologi diharapkan akan lebih baik pelaksanaannya," katanya.

Senada dengan hal tersebut, Anggota Komisi I DPR, Yan Permenas mengatakan menurutnya diplomasi pertahanan merupakan tugas Menteri Pertahanan yang harus terus dilakukan. Tujuannya untuk membangun diplomasi pertahanan dengan negara-negara sahabat yang bermanfaat. Ia pun memberi apresiasi terhadap langkah yang dilakukan Prabowo Subianto.

"Tentunya akan memberi feedback dan kontribusi atas diplomasi pertahanan yang dilakukan oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam rangka mendukung pemenuhan alutsista dan Tanah Air dan mendukung pertahanan kita di Tanah Air dalam mendorong peningkatan kualitas SDM aparat TNI kita," kata Yan.

Terkait manfaat terhadap posisi Indonesia di peta geopolitik Asia Pasifik, Yan mengatakan manfaat bagi Indonesia akan sangat besar sekali. Pasalnya, dengan diplomasi pertahanan yang dibangun dan kerja sama yang terus ditingkatkan dengan negara Asia dan negara yang menjadi agen komunikasi RI dengan negara Pasifik akan menciptakan kerja sama yang cukup erat.

"Sehingga tidak terjadi ketegangan dengan negara tetangga, kita ini kan berbatasan langsung dengan negara tetangga. Ada Filipina, Singapura, Malaysia, Australia, Timor Leste, Papua Nugini. Ini bagaimana Menteri Pertahanan terus merawat diplomasi pertahanan kita dengan negara tetangga kita," katanya.

Ia mencontohkan ketegangan yang terjadi beberapa tahun silam antara Indonesia dengan Papua Nugini, Australia, dan Malaysia. Sehingga diplomasi pertahanan ini dapat menjadi misi menjaga posisi Indonesia di peta geopolitik Asia Pasifik.

"Saya berharap langkah-langkah yang dilakukan Pak Prabowo ini bisa ditindaklanjuti dan di-follow up karena untuk membangun kekuatan ideal pertahanan kita tentunya membutuhkan estimasi waktu mungkin bisa 10-20 tahun untuk kita bisa mencapai kekuatan yang ideal dari aspek kebutuhan alutsista di TNI angkatan laut, darat, dan udara," pungkasnya. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan