Ridwan Kamil soal 2024: Saya Tahu Diri, Belum Berpartai, Apa akan Diajak?

Perhelatan Pemilihan Presiden masih berlangsung tiga tahun ke depan. Namun, nama-nama yang diprediksi ikut berkontestasi sudah bermunculan melalui berbagai survei.

Termasuk nama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang elektabilitasnya selalu berada di lima besar. Ridwan hanya kalah oleh Anies Baswedan, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo.

Menanggapi hal tersebut, Ridwan Kamil menyatakan bahwa tokoh politik, terutama kepala daerah atau menteri memiliki peluang mengikuti kontestasi Pilpres. Karena memenuhi aspek nilai berita dalam mendongkrak popularitas maupun elektabilitas.

Hanya saja, ia mengaku masih belum mau jumawa dan sadar diri karena masih belum berpartai. Pria yang akrab disapa Emil ini mengaku belum tahu akan dilamar atau tidak.

“Saya tahu diri. Saya ini belum berpartai, saya tidak tahu apakah dengan hasil survei untuk 2024 apakah akan dilamar atau akan diajak partai politik, saya tidak tahu. Kalau batinnya, terbuka, Bismillah, kalau tidak terbuka ya tidak masalah,” kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (28/5).

Di sisi lain, ia tak menampik bahwa selalu melihat hasil survei beragam lembaga untuk dijadikan bahan evaluasi kinerjanya sebagai kepala daerah. Alasannya, ia tidak ditopang dengan branding atau buzzer.

Artinya, jika ada tren positif peningkatan elektabilitas dalam survei, maka ia berani mengklaim karena murni pengaruh kinerjanya sebagai gubernur dan dilihat oleh masyarakat.

“Apa yang saya kerjakan, dan saya beritakan sendiri berpengaruh pada elektoral. Hasil Drone Emprit, kegiatan saya itu sumber viralnya saya sendiri, kalau teman-teman yang lain, ada amplikasi dari buzzer terkait viralnya,” tuturnya.

Komunikasi Tokoh Partai

Lebih lanjut, Ridwan Kamil mengaku selalu berkomunikasi dengan berbagai petinggi partai politik. Langkah ini pun tidak selalu harus diartikan dengan langkah dalam perhelatan kontestasi.

Beberapa tokoh partai yang kerap berkomunikasi, di antaranya Presiden PKS Ahmad Syaikhu; Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar; Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh; Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, hingga Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Itu sopan satun politik, semua partai saya datangi, tidak harus dalam rangka politik, karena bagi saya lebih baik banyak teman,” katanya.

Keputusan mengenai kontestasi akan ditentukan keputusan politik terakhir, terutama kebijakan Pilkada Serentak pada 2024. Jika Pilgub digelar November 2024, sedangkan Pilpres April 2024 maka, jika dilamar, dirinya bisa berlaga di Pilpres. Kalaupun hasilnya kalah, masih ada pilihan melanjutkan kembali menjadi Gubernur Jawa Barat.

“Kalau kalah saya masih ada pilihan, walaupun belum tentu saya maju untuk lanjut dua periode,” kata dia.[merdeka.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan