Daftar Zona Hijau Tanpa Kasus dan Tak Terdampak Covid-19 di Indonesia

Makin hari, makin sedikit pula zona hijau Covid-19 di Indonesia. Di sisi lain zona merah meningkat tajam.

Mengutip laman covid19.go.id, per 18 Juli 2021, zona hijau tinggal dua daerah. Terdapat dua macam zona hijau di Indonesia menurut Satgas Covid-19, yakni zona hijau yang berarti tidak ada kasus dan tidak terdampak.

Zona merah meningkat dari 129 kabupaten/kota menjadi 180 kabupaten/kota.

Di mana saja zona hijau tak ada kasus dan tak terdampak?

Zona hijau

Pekan ini zona hijau (tidak ada kasus) berada di Pegunungan Arfak (Papua Barat). Lalu zona hijau (tidak terdampak) berada di Dogiyai (Papua).

Sementara itu pekan sebelumnya (11 Juli) masih 12 daerah. Zona hijau pekan lalu terdiri atas 11 zona hijau (tidak ada kasus) dan 1 zona hijau (tidak terdampak).

Lalu per 27 Juni jumlah zona hijau sedikit lebih banyak, yakni 17 daerah. Sebelum PPKM Darurat, yaitu per 13 Juni, zona hijau di Indonesia berjumlah 25 daerah.

Zona hijau di Indonesia sempat tersebar luas setahun yang lalu. Melansir laman BNPB, 7 Juli 2020, sebanyak 104 kabupaten dan kota masuk daftar zona hijau.

Tim Pakar Gugus Tugas Nasional Dewi Nur Aisyah menjelaskan data tersebut adalah data per 5 Juli 2020.

"43 kabupaten-kota yang sudah berhasil masuk ke dalam zona hijau setelah sebelumnya terdampak Covid-19 namun selama empat pekan terakhir sudah tidak ditemukan kasus positif Covid dan angka kesembuhan mencapai seratus persen,” kata Dewi.

Selain itu daerah yang tidak terdampak Covid-19 jumlahnya 61, sehingga totalnya 104 daerah.

Masyarakat bisa memantau perkembangan zonasi ini lewat laman https://covid19.go.id/peta-risiko setiap minggunya.

Peta risiko

Peta Zonasi Risiko daerah dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan.

Indikator-indikator yang digunakan adalah:

Indikator Epidemiologi
Indikator Surveilans Kesehatan Masyarakat
Indikator Pelayanan Kesehatan.

Adapun yang termasuk indikator epidemiologi adalah sebagai berikut:

Penurunan jumlah kasus positif & probable pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak
Jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada
Penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak
Penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak
Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak
Penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50% dari puncak
Persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif
Insiden Kumulatif kasus positif per 100.000 penduduk
Kecepatan Laju Insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100.000 penduduk
Mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Lalu indikator surveilans adalah:

Jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO (1 orang diperiksa per 1,000 penduduk per minggu) pada level provinsi
Positivity rate rendah (target ≤5% sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa) - merujuk pada angka provinsi.

Sementara itu indikator pelayanan kesehatan termasuk:

Rata-rata angka keterpakaian TT Isolasi (% BOR TT Isolasi) dalam 1 minggu terakhir pada RS Rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien COVID-19 di wilayah tersebut.
Rata-rata angka keterpakaian TT Intensif (% BOR TT Intensif) dalam 1 minggu terakhir pada RS Rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien Covid-19 di wilayah tersebut.[kompas.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan