Kala Moeldoko Minta Semua Pihak Tak Jadi Lalat Politik

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta masyarakat tidak pesimis dalam upaya keluar dari krisis COVID-19. Selain itu, dia meminta semua pihak tidak menjadi lalat politik.

Mulanya, Moeldoko meminta masyarakat agar tidak hanya mengkritik, tapi juga menghadirkan solusi.

Mantan Panglima TNI ini mendorong masyarakat menyatukan daya dan kekuatan dalam mencari solusi di masa sulit ini. Ia meminta semua pihak mulai melepaskan perbedaan dan kepentingan untuk merefleksikan hal-hal yang bisa dikontribusikan pada kemajuan bangsa.

"Pemerintah tidak antikritik, namun untuk saat ini marilah sertai kritikan dengan solusi. Bantu kami berpikir dan bantu kami menyelamatkan masyarakat. Mari kita sama-sama bergerak untuk pemulihan bersama," imbaunya.

Moeldoko kemudian memperingatkan semua pihak agar tidak menjadi lalat-lalat politik. Menurutnya, lalat-lalat politik inilah yang mengganggu konsentrasi dalam penanganan pandemi.

"Saya mengingatkan semua pihak, janganlah menjadi lalat-lalat politik yang justru mengganggu konsentrasi," ungkap Moeldoko.

Dia menjelaskan bahwa lalat-lalat politik ini menggangu konsentrasi mereka yang bekerja keras. Para tenaga kesehatan hingga ASN saat ini bekerja keras agar bisa keluar dari krisis ini.

"Konsentrasi siapa? Mereka-mereka yang saat ini bekerja keras. Bahkan mempertaruhkan hidup dan mati. Para tenaga medis dan para ASN saat ini bekerja keras untuk kita semua," tuturnya.

Pemerintah Berjuang di Segala Lini

Moeldoko menyatakan pemerintah telah mengupayakan segala lini, baik dari segi realokasi anggaran, penyediaan tambahan tempat tidur bagi pasien, pengadaan oksigen, upaya percepatan vaksin, hingga tindakan tegas yang diberikan kepada para pelanggar PPKM darurat serta para penimbun obat-obatan dan oksigen.

Namun Moeldoko mengakui pengimplementasian PPKM bukan tanpa tantangan. Berdasarkan pantauan pemerintah, tingkat mobilitas masyarakat di masa PPKM darurat baru minus 30 persen, kata Moeldoko. PPKM baru akan dianggap berhasil jika mampu menekan mobilitas di minus 50 persen.

"Oleh sebab itu, pemerintah tetap akan memperketat PPKM sampai 20 Juli," tegas Moeldoko.

Selain itu, menurut Moeldoko, ketaatan seluruh warga menjadi kunci pemulihan dari pandemi. "Maka saya mengajak masyarakat untuk taat betul PPKM darurat, harus taat betul," tegasnya.

Moeldoko menambahkan, kebijakan pemerintah menarik rem darurat ini tentu akan berdampak pada roda perekonomian masyarakat. Namun ini adalah pilihan sulit yang harus diambil demi keselamatan masyarakat dan pemulihan bersama.

"Indonesia pulih karena saya, Indonesia pulih karena kamu, dan Indonesia pulih karena kita," ujarnya. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan