Siti Fadilah Pertanyakan Kematian Covid Naik, Kemenkes Jawab

Mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mempertanyakan angka kematian karena Covid-19 yang melonjak tinggi, padahal program vaksinasi sudah berjalan di penjuru daerah.

"Sebelum vaksinasi dimulai itu morbiditas (kasus positif) dan mortalitas (kematian) berapa? Setelah vaksinasi dimulai sampai kira-kira 10 juta orang divaksin, morbiditas dan mortalitas seperti apa, lho kok malah meningkat?" kata Siti dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Partai Gelora secara daring, Kamis (1/7).

Diketahui vaksinasi dikatakan dapat mengurangi gejala seseorang ketika terinfeksi covid-19. Sehingga risiko pasien meninggal bisa diminimalisir, meskipun tidak mencegah penularan virus.

Sementara angka kasus meninggal karena Covid-19 per 24 jam kemarin menembus rekor di angka 504 orang. Di hari yang sama, angka kasus positif harian juga pecah rekor dengan jumlah 24.836 kasus.

Siti mengatakan pemerintah perlu menelusuri kemungkinan kasus meninggal karena Covid-19 meskipun sudah divaksinasi. Menurutnya, penanganan pandemi tak bisa hanya mengandalkan perkiraan.

Ia menilai ketidaktahuan pada substansi ilmiah membuat penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia serba salah. Siti menyarankan penghitungan statistik agar ditemukan jawaban dibalik lonjakan kematian belakangan ini.

"Jangan kira-kira rakyat tidak disiplin, kira-kira pada keluyuran, jangan kira-kira. Kita harus cari betul, kematian sebelum divaksin dan kematian setelah vaksinasi berjalan," ujarnya.

Merespon pernyataan Siti tersebut, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menjelaskan angka kematian masih melonjak karena belum semua orang divaksin dan herd immunity atau kekebalan komunal belum tercapai.

Ia mengatakan warga Indonesia yang menerima vaksin Covid-19 baru mencapai 7,5 persen dari total sasaran 181.554.465 penduduk penerima vaksin untuk mencapai herd immunity.

"Karena masih banyak yang belum di vaksin ya, baru 13 juta yang mendapatkan vaksinasi lengkap. Jadi level proteksi komunitasnya belum cukup," kata Nadia melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com.

Sebelumnya Nadia menjelaskan vaksin tidak bisa mengobati Covid-19, melainkan sebatas upaya preventif. Apabila vaksinasi Covid-19 telah dilakukan secara masif dan agresif pada 60-70 persen penduduk, baru diharapkan bisa menekan tingkat kesakitan dan kematian Covid-19. [cnnindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan