Capex PLN Dipangkas Rp 24 T, Erick: Setop yang Tak Penting!

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa PT PLN (Persero) berhasil memangkas belanja modal (capital expenditure/ capex) hingga 24% atau sekitar Rp 24 triliun.

Menurutnya, ini penting untuk kesehatan keuangan PLN.

"Stop permainan proyek tidak penting. Komisaris dan direksi membuktikan bisa menekan capex hampir 24% atau Rp 24 triliun itu luar biasa karena kesehatan PLN menjadi penting. Kalau PLN sakit, kita semua sakit," ujarnya dalam "Launching Produksi Oksigen PLN Peduli" secara virtual, Kamis (12/8/2021).

Dia pun menyinggung utang PLN kini telah menyentuh Rp 500 triliun, sehingga harus ada terobosan baru yang dilakukan perseroan untuk memperbaiki masalah utang ini.

"Dengan kondisi PLN utang Rp 500 triliun dan mengubah para pembangkit menjadi energi terbarukan butuh dana besar, ditambah penugasan pemerintah yang harus melakukan kompensasi subsidi, tidak ada jalan lagi harus ada terobosan," katanya.

Dia menegaskan, transformasi di tubuh PLN harus dilakukan bersama. Salah satu contohnya adalah bagaimana manajemen PLN bisa memanfaatkan sesuatu yang tadinya terbuang bisa menjadi bermanfaat, seperti PLN akhirnya bisa memproduksi oksigen murni yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Karang, Jakarta Utara. Oksigen murni ini bisa bermanfaat untuk keperluan medis.

"Apalagi sekarang bertransformasi sesuai program pemerintah dan dunia, dan lindungi rakyat lebih sehat. PLN akan masuk ke energi terbarukan," katanya.

Terkait energi terbarukan, menurutnya ini kondisi yang tak bisa terelakkan dan merupakan tuntutan zaman yang terus berubah. Apalagi, imbuhnya, di masa depan salah satu syarat barang atau produk yang bisa diterima global yaitu berasal dari energi terbarukan, sehingga menurutnya isu energi terbarukan ini merupakan isu fundamental.

"PLN mendukung basis industri. PLN kalau tak bertransformasi, listrik yang tak ramah lingkungan, hasil kita tak diakui negara lain," katanya.

"Saya yakinkan, sebagai Menteri BUMN tidak mungkin juga membiarkan PLN menjadi perusahaan yang tidak sehat. Saya mengawal memastikan PLN tulang punggung yang jadi sehat. Saya tidak segan-segan menekankan, perubahan transformasi di PLN tak hanya perusahaan, tapi juga culture dan human capital," imbuhnya.

Indonesia sepakat untuk bebas karbon pada 2060 melalui pengoperasian pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Ini juga sejalan dengan kesepakatan Paris untuk memerangi dampak perubahan iklim.

Menurut Erick, Indonesia diberi waktu setidaknya 34 tahun untuk mengonversi pembangkit listrik berbasis batu bara menjadi energi terbarukan. Dia mengatakan, pada 19 tahun pertama sebesar 21 GW PLTU berbasis batu bara akan dikonversi menjadi energi terbarukan. Kemudian, pada 15 tahun berikutnya, harus mengubah PLTU menjadi pembangkit energi terbarukan sebanyak 29 GW.

"Ini sesuatu yang tidak terelakkan transformasi besar-besaran harus terjadi sekarang," pungkasnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan