Kisah Prabowo Digembleng di Lembah Tidar : Ditempeleng Gara-Gara Gula Jawa

Banyak pengalaman berkesan bagi Prabowo Subianto saat berkarier di militer. Tak terkecuali ketika dia menjalani hari-hari pertama di Akabri (kini Akademi Militer) 1970, termasuk ditempeleng letnan marinir.

Di Lembah Tidar, Magelang itu, Prabowo--kini menteri pertahanan--, tergabung dalam Kompi 2 C Batalyon C4. Di situlah untuk pertama kali dia berjumpa dengan Letnan KKO Azwar Syam.

Prabowo menuturkan, sejak awal Azwar Syam telah mencuri perhatiannya. Azwar berperawakan langsing, kurus, tidak terlihat satu sentimeter pun lemak di badannya, berkulit hitam, dan penuh percaya diri.

“Dia memakai baret ungu, baju hijaunya sudah terlihat belel, tapi sangat rapi karena disetrika, bahkan dikanji. Kopelnya sangat mengkilat. Demikian pula sepatunya,” kata Prabowo dalam  buku biografinya berjudul ‘Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto’, dikutip Minggu (1/8/2021).

Mantan Danjen Kopassus ini menerangkan, Letnan KKO Azwar Syam merupakan Komandan Kompi 2 Batalyon C4. Atasannya langsung itu dikenal sangat tegas.

Prabowo mengingat, Azwar merupakan orang pertama yang menempelengnya, di luar orangtua. Dia mengingat orangtuanya menempeleng ketika dirinya masih kecil, mungkin ketika itu karena nakal. 

Setelah menginjak masa SMP dan SMA, tidak pernah lagi kedua orangtua menempelengnya. Namun, di Akmil kini dia merasakan lagi tempelengan di kepala itu.

Momen Ditempeleng Azwar Syam

Pengalaman tersebut terjadi di hari-hari awal pendidikan sebagai Taruna atau lazim dikenal sebagai masa perpeloncoan. Ketika itu semua Taruna sudah digunduli. Para senior lantas memberikan helm tanpa alas.

“Para senior berbagi tips untuk menyiasati agar kepala tidak sakit saat memakai helm baja tersebut, yaitu melapisi kepala dengan bahan kain,” ujar Prabowo.

Atas saran itu banyak yang berinisiatif memanfaatkan celana dalam hasil pembagian Akabri. Walaupun celana dalam itu berbahan kain sangat kasar, tapi lumayan dimanfaatkan untuk mengurangi rasa sakit di kepala.

Ada pula senior yang memberikan setengah tangkap gula jawa kepadanya. Prabowo menceritakan, dengan berbisik senior itu menjelaskan, memakan gula jawa akan membuat tubuh tetap prima alias tidak mudah lelah.

Prabowo mengaku tidak tahu apakah pemberian itu bermaksud baik atau tidak. Yang pasti, dengan polosnya sebagai Taruna junior, dia menerima gula jawa itu dan menaruhnya di kantong celana.

Tiba-tiba setelah itu digelar apel. Letnan KKO Azwar Syam mengecek satu per satu. Tiba di hadapannya, Azwar langsung memegang kantong celana.

“Ada apa ini?” kata Azwar, ditirukan Prabowo.

Azwar lantas mengecek dan mengambil gula jawa dari kantong celana dan tanpa babibu langsung menempeleng Prabowo.

“Poook. Kira-kira begitu bunyinya. Sakit dan menyakitkan,” tutur Prabowo.

Tentu saja dia sangat kaget. Mantan Pangkostrad ini terkejut saat kadet ditempeleng. Dia lantas membandingkan dengan pendidikan militer di luar negeri seperti Inggris. Di negara itu, menempeleng tidak boleh.

Wajar Prabowo bertanya-tanya mengingat dirinya pernah bersekolah di luar negeri. Karena itu ada kekagetan budaya saat dia menempuh pendidikan Akabri.

Namun ajaibnya, Prabowo tak pernah membenci Azwar Syam yang telah menempelengnya di hadapan Taruna lain. Justru lambat laun timbul rasa sayang dan hormat pada komandannya itu. 

Bagi Prabowo, Azwar Syam merupakan sosok teladan. Dia blak-blakan mengaku belajar banyak. Karena selain orangnya sangat keras, namun juga sangat disiplin.

Azwar, kata dia, selalu tiba pertama kali ketika akan melaksanakan apel pagi. Dalam memeriksa senjata, dia juga sangat detail. Pelajaran lain, Azwar Syam sangat peduli dengan anak buah.

“Kalau anak buahnya mendapat nilai kurang baik, Beliau selalu menemui dosen-dosen dan menghadap ke departemen-departemen untuk memperjuangkan agar ada kesempatan Taruna diperbaiki nilainya,” tutur Prabowo.

Menjadi Tentara

Dalam bukunya, Prabowo juga menuturkan kesan dan rasa hormatnya kepada Letnan Jenderal TNI (Purn) Kemal Idris. 

Kemal merupakah sahabat dekat pamannya, Subianto Djojohadikusumo. Subianto gugur dalam Pertempuran Lengkong, Serpong, bersama Nayor Daan Mogot dan para Taruna Akmil lainnya pada 25 Januari 1946.

Suatu ketika Prabowo bertemu Kemal Idris. Dalam perbincangan itu, Kemal menuturkan tentang Subianto.

“Saya ini sahabat pamanmu. Pamanmu orang yang sangat berani. Jika pamanmu masih hidup, saya yakin dia yang jadi Pangkostrad. Kamu harus ikuti jejak pamanmu. Subianto itu dulu jagoan,” ujar Kemal, ditirukan Prabowo.[inews.id]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan