Wow! RI Penguasa Ekonomi Digital ASEAN, Nilainya Rp 638 T

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso terus mendorong agar industri keuangan tanah air melakukan transformasi digital. Pasalnya, sektor ini ke depan akan memberi andil yang besar bagi perekonomian.

Menurut Wimboh, saat ini persaingan di industri ekonomi digital tidak hanya berasal dari pemain di dalam negeri, melainkan harus bersaing dengan pemain regional dan global.

Meski demikian, Indonesia turut diuntungkan terkait potensi ekonomi digital ini dengan jumlah penduduk yang besar, mencapai 272 juta penduduk dan penetrasi internet yang sudah mencapai 151 juta atau setara 55% populasi.

Sebagai gambaran, kata Wimboh saat ini hampir 50% produk domestik bruto (PDB) di Asia Tenggara disumbang oleh Indonesia dengan nilai US$ 1,05 triliun, lebih besar dari Singapura sebesar US$ 345 miliar atau setara 10% PDB Asean. Lalu, Thailand sebesar US$ 502 miliar yang setara dengan 15% PDB Asean.

Pun demikian besarnya nilai ekonomi digital tanah air yang saat ini sudah mencapai US$ 44 miliar atau setara Rp 638 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.500 per US$. Nilai ini setara 42% dari total nilai ekonomi digital di Asia Tenggara.

"Nilai digital ekonomi Indonesia mencapai US$ 44 miliar [Rp 638 triliun] atau 42% dari total nilai digital ekonomi Asean. Singapura US$ 9 miliar atau 8%, Thailand US$ 18 miliar atau 17%, sehingga Indonesia adalah big market ekonomi digital," kata Wimboh, di acara Arahan dan Diskusi Perkembangan Teknologi di Indonesia dan Visi Digitalisasi Nasional, Jumat (27/8/2021).

Selain itu, saat ini, kata Wimboh, Indonesia mempunyai sebanyak 2.100 startup, di mana sebanyak 5 startup berstatus unicorn, 1 decacorn dengan nilai transaksi mencapai US$ 18,3 miliar oleh 129 juta penduduk yang menggunakan e-commerce pada tahun 2020.

Dengan kondisi tersebut, Wimboh menilai, transformasi digital di sektor keuangan merupakan keharusan agar bisa kompetitif.

"Kami mengatakan ini penting karena sektor keuangan harus mentransformasikan dirinya untuk orientasi kepada baik bisnis proses internal maupun produk yang berorientasi digital, apabila tidak tentunya akan menjadi kurang kompetitif," bebernya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan