Keren! Produk Limbah Kelapa Pangandaran Diekspor ke Tiongkok-Jepang

Kata siapa limbah kulit kelapa tidak memilki harga jual? Di tangan pengurus Koperasi Produsen Mitra Kelapa Pangandaran, limbah kulit kelapa bisa dijadikan barang yang memiliki harga jual, bahkan bisa menambah ke pasar Asia.

Limbah kulit kelapa yang diproduksi Koperasi Produsen Mitra Kelapa Pangandaran ini bisa dijadikan sebagai cocofiber atau serabut kelapa dan cocopeat atau media tanam yang digunakan untuk tanaman.

Ketua Koperasi Produsen Mitra Kelapa Pangandaran Yohan Wijaya Nurahmat mengatakan, limbah kulit kelapa yang diproduksinya sudah diekspor ke Tiongkok dan Jepang.

"Cocofiber produk serabut kelapa kita olah jadi serat namanya cocofiber dan serbuknya itu cocopeat, serat itu banyak kegunaannya," kata Yohan dijumpai dalam kegiatan Karya Kreatif Indonesia 2021 yang digelar Bank Indonesia Jabar di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Kamis (23/9/2021).

Seperti diketahui, cocopeat bisa digunakan sebagai media tanam untuk tanaman , sedangkan cocofiber bisa digunakan sebagai tali. Bahkan di luar negeri, serabut kelapa ini bisa dijadikan sebagai pengganti busa.

"Bisa pakai tali, sekarang dijualnya ke Tiongkok, mayoritas ke Tiongkok, ada ke Australia dan Jepang. Bisa digunakan untuk otomotif part, buat jok, peredaram, karpet dan mebel sekarang sudah beralih kaya kasur pengganti foam, lebih higienis, natural dan tahan lama, enggak mudah kempis," ungkap Yohan.

Belum lama ini, produk limbah kelapa dari Kabupaten Pangandaran ini sudah dikirim ke Jepang dan Tiongkok. "Tiongkok dan Jepang, kita kirim hitungan per tahun, terakhir 30 ton cocofiber dan cocopeat sekitar 40 ton," ujarnya.

"Permintaan lokal ada, cuman enggak banyak. Ekspor juga enggak direct secara langsung tapi masih via agregator," tambahnya.

Hasil penjualan limbah kelapa itu, dapat mengaji 43 orang karyawannya. Menurutnya, limbah kelapa ini bisa menghasilkan lapangan kerja bagi warga sekitar.

"Cocofiber kita jual Rp 2.600-3.200 ribu per kilogram dan cocopeat Rp 2.600-3.400 ribu per kilogram. Sekarang karyawan kita di pabrik ada 43 orang, warga sekitar," jelasnya.

Ketua Dekranasda Jabar Atalia Praratya Kamil mengatakan, dampak pandemi COVID-19 menghantam seluruh sektor ekonomi, salah satunya Koperasi dan UMKM.

"Saat ini sudah membaik, alhamdulillah. Kota berharap kolaborasi yang dilakukan dengan berbagai pihak bisa memunculkan percepatan ekonomi di Jawa Barat," kata Atalia usai membuka acara tersebut.

Atalia menyebut, di tengah persaingan ekonomi, pelaku koperasi dan UKM ini harus terus berinovasi. Istri Gubernur Jawa Barat ini mengapresiasi langkah BI Jabar yang bermitra dengan para pelaku koperasi dan UKM ini yang menghasilkan produk Green Economy.

"Kulit kopi bisa menjadi kain tas danlainnya. Ada kain bekas yang diolah ulang menjadi kualitas lebih baik dan serabut kepala yang bisa jadi tambang danlainnya," puji Atalia.

Tak hanya itu, Ataia menyebut perekonomian para pelaku UMK ini kembali menggeliat seiring pembukaan mal dan sejumlah obyek wisata.

"Betul, selama ini UMKM terkendala kena tidak mampu dekat dengan teknologi secara luas. Mereka sangat tergantung pada bagaimana memasarkan produknya secara offline," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Jabar Herwanto mengatakan, pihaknya terus membantu pemerintah dalam pemulihan ekonomi di Jawa Barat. Pihaknya akan mendorong pelaku UMKM yang memiliki barang yang green product dan green economy.

"Semua bersinergi, berkolabir6untum mendukung UMKM. UMKM apa? UMKM yang berkualitas, cirinya menggunakan teknologi dan ekspor. Ini harus yang kita wadah dan dorong, ketika berbicara ekspor yang paling mengenalnya adalah green product dan green economy," paparnya.

"Kita tujukan, yuk bangun Jawa Barat dengan gaya pembangunan yang berwawasan lingkungan, termasuk UMKM," pungkasnya.[detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan