Senior PDIP: 2 Tahun Jokowi-Ma'ruf, Stabilitas Politik Baik-Persatuan Kokoh

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Wapres Ma'ruf Amin akan genap dua tahun pada hari ini. Senior PDIP Hendrawan Supratikno mengatakan dua tahun awal kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf merupakan tantangan yang berat karena adanya pandemi.

"Pagebluk pandemi merupakan masalah yang datang tak terduga. Akibatnya, semua rencana dan program kerja, mengalami banyak perubahan. Bayangkan, untuk anggaran saja, pada 2021 dilakukan 4 kali refocusing (pergeseran alokasi). Pandemi yang disertai resesi, benar-benar membuat target-target dalam RPJPM berubah. Masih bersyukur, kita bisa mengatasi dua soal berat tersebut," kata Hendrawan, kepada wartawan, Selasa (19/10/2021).

Hendrawan mengatakan dua tahun belakangan ini menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah. Meski begitu menurutnya, di dua tahun awal kepemimpinan Jokowi-Maruf, stabilitas politik dan persatuan nasional tetap terjaga.

"2 tahun ini memberi pelajaran penting kepada kita. Untung sekali, stabilitas politik bisa terjaga dengan baik, dan persatuan nasional tetap kokoh. Modal sosial gotong royong ikut membantu kita melewati turbulensi yang dahsyat ini," ujarnya.

Di tahun berikutnya, Hendrawan meminta adanya akselerasi pembangunan di segala bidang sekaligus memulihkan kembali keadaan akibat pandemi. Momentum pemulihan itu menurutnya harus adanya pembenahan kelembagaan secara struktural.

"Sekarang, memasuki tahun ke-3 periode kedua, saatnya melakukan akselerasi pembangunan dalam segala bidang. Momentum pemulihan harus dimanfaatkan untuk pembenahan kelembagaan secara struktural," ujarnya.

Terkait adanya kritik demokrasi yang menurun, Hendrawan mengatakan hal itu merupakan pekerjaan rumah semua partai politik. Perlu adanya kesadaran bersama untuk mencapai demokrasi yang ideal, bukan dengan konfrontasi.

"Semua parpol paham dalam situasi sulit, persatuan dan soliditas politik merupakan prakondisi untuk mengatasinya. Ada semacam kesadaran kolektif yang seragam. Ini dinilai sebagai penurunan indeks demokrasi, apalagi bagi para pengamat yang sering mengidentikkan demokrasi dengan gontok-gontokan, dengan konfrontasi. Tiongkok mengatasi pandemi lebih efektif dibanding AS, padahal indeks demokrasi AS jauh lebih tinggi," tuturnya. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan