Bocoran Menteri Jokowi: Akan Ada Kebijakan Luar Biasa di G20

Indonesia menyiapkan berbagai hal saat menjadi tuan rumah Presidensi G20. Nantinya, para negara akan berembuk untuk mendesain pemulihan ekonomi secara bersama.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengemukakan saat ini dunia masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari ketidakmerataan akses vaksin dan berbagai isu global lainnya.

"Ini tentu menjadi tantangan yang besar untuk mendesain suatu pemulihan ekonomi bersama karena sebagian negara akan mulai melakukan aksi exit policy dari policy yang sifatnya extraordinary," kata Sri Mulyani, seperti dikutip Minggu (28/11/2021)

Sri Mulyani memandang, Presidensi G20 Indonesia merupakan sebuah tanggung jawab besar, dalam menggalang kolaborasi global untuk pemulihan ekonomi bersama.

"Tentu ini membutuhkan sebuah pertemuan di mana persiapan maupun dalam hal ini diskusi antara para pembuat keputusan di negara-negara G20, terutama pada level menteri keuangan dan bank sentral," jelasnya

Selain itu, ajang ini akan dimanfaatkan indonesia untuk meningkatkan diplomasi ekonomi. Ini diungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

Dia mengatakan diplomasi itu dilakukan untuk menciptakan arsitektur ekonomi serta pemulihan kesehatan global pasca pandemi.

"Kami berpandangan mengelola Presidensi G20 butuh komitmen dan kolaborasi. Oleh karena itu, penguatan kerjasama internasional dari forum G20 menjadi penting. Ini akan membantu memulihkan kepercayaan global," ucapnya.

Sementara itu menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kunci penting acara tersebut adalah inklusivitas. Sebab menurutnya Indonesia tak hanya memperhatikan kepentingan anggota G20 saja.

Tapi Indonesia juga memperhatikan kepentingan pada negara berkembang serta kelompok yang rentang.

Dia mencontohkan saat Indonesia jadi anggota Dewan Keamanan PBB terus memberikan solusi hingga menyuarakan kepentingan negara berkembang.

"Ini memang DNA politik luar negeri. Jika kita lihat beberapa waktu lalu saat menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, Indonesia konsisten menjadi bagian solusi, menjembatani perbedaan dan menyuarakan kepentingan negara berkembang," jelas Retno.

"Dan kami akan melanjutkan peran tersebut saat Indonesia menjadi Presidensi G20".

Indonesia juga akan beri perhatian besar untuk masyarakat di negara berkembang dari Asia, Afrika dan Amerika Latin. Bahkan negara kepulauan kecil di Pasifik dan Karibia.
Selain itu juga mengikutsertakan dari kalangan perempuan, pemuda, akademisi, dunia usaha hingga parlemen.

Ini akan diwujudkan melalui diskusi yang sesuai pilar sistem kerja G20 yakni Finance Track dan Sherpa Track. Finance Track berfokus pada masalah keuangan dan moneter dan Sherpa Track seperti ekonomi digital dan juga energi lingkungan dan iklim.

"Sherpa Track, selama masa presidensi ini, Indonesia akan mengadakan 12 pertemuan tingkat menteri. Misalnya pembangunan, ekonomi digital, kesehatan, energi lingkungan dan iklim, ketenagakerjaan, perdagangan, industri dan investasi, pariwisata, pertanian, pendidikan dan pertemuan menteri pemberdayaan perempuan," jelas Retno.

Retno menambahkan akan ada juga pertemuan antar pemerintah. Tujuannya berjuang pada konferensi tingkat tinggi di bulan Oktober 2022 yang juga diselenggarakan di tanah air.

"Ada juga pertemuan di luar pemerintah, bernama engagement group. Ada 10 kelompok bernama bisnis, masyarakat sipil, serikat buruh, ilmuwan, think tank, kota, perempuan, pemuda dan parlemen," ungkapnya.[cnbcindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan