Cerdas dan Berwibawa, Jenderal Andika Perkasa Dinilai Cocok Sebagai Calon Panglima TNI

Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menilai penunjukan Jenderal Andika Perkasa sebagai calon Panglima TNI dinilai sebagai keputusan yang tepat. Menurut Nuning, Jenderal Andika adalah seorang perwira cerdas yang memiliki wibawa di mata internasional.

Selain itu, Jenderal Andika dinilai memahami TNI secara keseluruhan, bukan hanya matranya saja, dan memberi atensi pada kasus-kasus sosial yang humanis di tubuh TNI seperti uji keperawanan kowad, nasib para purnawirawan, dan lain sebagainya.

“Beliau juga memiliki kemampuan intelijen yang paripurna,” tambah Nuning.

Proses pergantian Panglima TNI sejak periode Reformasi selalu menjadi topik yang menarik perhatian banyak kalangan. Banyak pakar dan akademisi memberikan pandangan terkait perspektif dan ketentuan yang berlaku selama ini.

“Suksesi di tubuh TNI selalu menjadi diskursus yang hangat mengingat TNI sebagai salah satu komponen penting Bangsa Indonesia banyak berperan penting dalam dinamika Bangsa Indonesia,” jelasnya.

Berdasarkan pasal 13 ayat 4 UU TNI nomor 34 tahun 2004 memang mengamanatkan jabatan Panglima TNI dapat dijabat oleh Pati aktif yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan. Artinya Kasad, Kasal dan Kasau memiliki peluang yang sama untuk menjabat Panglima TNI.

Meski harus bergantian namun pada kenyataannya Presiden yang menentukan siapa yang akan menjabat. Hak prerogatif presiden tersebut memang tidak dapat diintervensi oleh siapapun.

Menurut Nuning, ada setidaknya 2 hal penting yang perlu menjadi pertimbangan terkait suksesi Panglima TNI, yaitu:

Pertama, pertimbangan kebutuhan organisasi TNI dalam kurun waktu ke depan sebagai bagian modernisasi Alutsista sehingga dibutuhkan kemampuan manajemen tempur dan diplomasi militer yang handal.

Kedua, pertimbangan perkembangan lingkungan strategis pada tataran Global dan Regional. Dibutuhkan sosok Panglima TNI yang memiliki dampak penangkalan bagi petinggi militer internasional.

“Penting sekali jika Panglima TNI disegani dunia internasional,” katanya.

Wabah Covid-19 merupakan ancaman nirmiliter. Ancaman nirmiliter berbeda dengan ancaman militer dan ancaman nonmiliter.

Ketiganya kini dikenal sebagai ancaman hybrida dan telah merubah perspektif ancaman di masa mendatang.

Senjata biologi dan pertahanan negara anti senjata biologi merupakan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai TNI. Pada masa depan ancaman Nubika (Nuklir, Biologi, Kimia) harus masuk dalam kewaspadaan kita. Para Prajurit TNI kini dituntut memiliki kemampuan tempur konvensional dan kemampuan tempur kontemporer.

Tuntutan kemampuan di masa depan tersebut harus menjadi agenda pimpinan TNI yang baru.

Latar belakang penugasan operasional juga harus dilengkapi dengan pengalaman pendidikan. Sebenarnya Panglima TNI sangat bagus bila memiliki tingkat intelektual yang tinggi ,dijabat oleh Pati yang memiliki kriteria sebagai Scholar Warrior. [okezone.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan