Sri Mulyani Bawa Kabar Bahagia untuk Jokowi, Ini Bocorannya!

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku mendapatkan kabar gembira dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada pagi ini.

Berbicara dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), Jokowi mendapatkan kabar bahwa capaian penerimaan negara terutama dari sektor perpajakan cukup memuaskan.

"Tadi pagi baru saja saya mendapatkan laporan dari bu Menteri Keuangan. Capaian dari pajak sangat baik, bea cukai sangat baik," kata Jokowi, Rabu (24/11/2021)

Jokowi memang tak merinci lebih jauh berapa besar realisasi penerimaan sektor perpajakan. Namun, khusus penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sudah mencapai lebih dari 100%.

"Ini baik semua. Tumbuh 18,2 year on year (yoy)," kata eks Gubernur DKI Jakarta itu.

Jokowi mengakui bahwa tanda-tanda ekonomi nasional mulai terlihat. Namun, bukan berarti situasi sudah dalam keadaan aman, mengingat masih ada pandemi Covid-19.

"Tapi sekali lagi, ketidakpastian selalu mengintip. Hati-hati kita harus optimis kita juga harus tetap hati-hati," tegasnya.

Seperti diketahui, realisasi pendapatan negara hingga Oktober 2021 telah mencapai Rp 1.510 triliun atau tumbuh 18,2% secara tahunan. Realisasi tersebut telah mencapai 88,6% dari target Rp 1.743,6 triliun.

Sebelumnya, Sri Mulyani juga mengatakan, bahwa ekonomi tengah mengalami perbaikan, terutama dari penerimaan negara.

Dibandingkan Oktober tahun lalu, pendapatan negara anjlok atau -15,3% dari sisi pajak, yang hanya mencapai Rp 826,9 triliun. Kemudian Oktober 2022 penerimaan pajak sudah naik ke angka Rp 953,6 triliun atau naik 15,3%.

"Ini merupakan rebound recovery yang sangat kuat. Kalau kita di bea dan cukai tidak mengalami kontraksi," tuturnya dalam dalam Kongres Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI) tahun 2021, Selasa (23/11/2021).

Dari sisi bea cukai, negara berhasil mengumpulkan Rp 205,8 triliun atau tumbuh 25,5% dibandingkan Oktober 2020, yang hanya mencapai Rp 164 triliun.

Kemudian, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), sampai dengan Oktober 2021 berhasil terkumpul sebanyak Rp 349,2 triliun atau tumbuh di atas 25% dari Oktober 2020 yang hanya mencapai Rp 278 triliun.

Dalam paparannya, Sri Mulyani mengatakan, peningkatan kinerja PNBP utamanya didukung oleh penerimaan sumber daya alam (SDA) di tengah meningkatnya harga komoditas.

Kenaikan harga komoditas ini lah yang menjadikan Indonesia bak ketiban durian runtuh.

"Outlook kinerja PNBP utamanya didukung penerimaan SDA sejalan dengan tren peningkatan harga komoditas," jelas Sri Mulyani.

Adapun outlook pendapatan negara tahun ini akan mencapai Rp 1.916,8 triliun atau mencapai 109,6% dari target APBN yang sebesar Rp 1.743,6 triliun. Adapun outlook penerimaan ini tumbuh 16% dibandingkan dengan realisasi Oktober 2020 yang sebesar Rp 1.277 triliun.[cnbcindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan