GP Ansor Anggap Menag Korban Propaganda Pihak Pembuat Gaduh

Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur menyebut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas tengah jadi korban propaganda terkait polemik adzan dan gonggongan anjing.

Ketua GP Ansor Jatim Syafiq Syauqi menganggap kecaman yang ditujukan kepada Yaqut sejauh ini bertujuan membuat gaduh dan mengganggu stabilitas nasional.

"Tantangan dalam era disrupsi informasi saat ini adalah pola-pola gerakan framing media dengan teknik propaganda dan manipulasi informasi yang menyesatkan publik. Ini yang sedang mereka lakukan dengan memotong secara kejam pernyataan menteri agama" kata Gus Syafiq, Jumat (25/2).

Menurut Syafiq, ada pihak yang sedari awal beriktikad buruk dengan memenggal pernyataan utuh menteri agama. Tujuannya untuk menggiring sentimen negatif.

"Mereka memotong dan mengambil diksi membenturkan antara azan dengan suara anjing. Masyarakat harus cerdas memahami utuh tentang ini," ucapnya.

Menurut kajian yang dilakukan Ansor, tidak ada kata membandingkan atau mempersamakan antara azan atau suara yang keluar dari masjid dengan gonggongan anjing.

Menurutnya, Yaqut justru mempersilakan umat untuk menggunakan pengeras suara sebagai syiar dakwah dan berbagai keperluan esuai dengan aturan untuk kemaslahatan bersama.

"Ini jelas teknik manipulasi informasi yang ditujukan memancing sisi emosional umat islam dengan angle membenturkan sesuatu yang sakral dengan hal yang tabu. Pola lama yang dicoba lagi" ucapnya.

Pernyataan Menag, kata dia, adalah untuk menunjukkan contoh sumber kebisingan yang ada di tengah masyarakat. Contoh kebisingan yang disebut Menag itu harus diatur agar tidak menjadi gangguan di masyarakat.

"Gus Dur jauh hari sudah menulis tentang Islam Kaset dan kebisingan sosial bahkan ditulis di tahun 1982 karena kita semua menjunjung tinggi kaidah Dar'ul mafashid Muqoddamun ala jalbil mashalih. Mencegah kemudharatan itu harus menjadi skala prioritas diatas mengambil kemaslahatan," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas menuai kritik banyak pihak. Dia dianggap menyandingkan suara adzan dari masjid dengan gonggongan anjing.

"Kita bayangkan lagi, kita muslim, lalu hidup di lingkungan nonmuslim, lalu rumah ibadah saudara kita nonmuslim bunyikan toa sehari lima kali dengan kencang-kencang secara bersamaan itu rasanya bagaimana?" ungkap Yaqut di Pekanbaru, Rabu (23/2).

"Yang paling sederhana lagi, tetangga kita ini dalam satu kompleks, misalnya, kanan kiri depan belakang pelihara anjing semuanya, misalnya, menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu enggak?" ucap Yaqut menambahkan. [cnnindonesia.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan