Jokowi: Rivalitas di Ukraina Harus Dihentikan, Perang Tak Boleh Terjadi!

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menyampaikan pernyataan tentang situasi terkini di Ukraina. Jokowi meminta semua pihak menahan diri.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi lewat akun Twitter seperti dilihat, Senin (21/2/2022). Jokowi tidak ingin perang terjadi.

"Rivalitas dan ketegangan di Ukraina harus dihentikan sesegera mungkin. Semua pihak yang terlibat harus menahan diri dan kita semua harus berkontribusi pada perdamaian. Perang tidak boleh terjadi," tulis Jokowi.

Jokowi mengajak semua pihak untuk bekerja sama. Dia membeberkan sejumlah masalah yang harus dihadapi saat ini.

"Saatnya dunia bersinergi dan berkolaborasi menghadapi pandemi. Saatnya kita memulihkan ekonomi dunia, mengantisipasi kelangkaan pangan, dan mencegah kelaparan.

Sebelumnya diberitakan, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Moskow, Rusia mengingatkan warga AS akan potensi serangan di tempat-tempat umum diRusia, termasuk di sepanjang perbatasan dengan Ukraina, di mana Rusia telah menempatkan pasukannya.

"Menurut sumber media, ada ancaman serangan terhadap pusat perbelanjaan, stasiun kereta api dan metro, dan tempat-tempat berkumpul umum lainnya di daerah-daerah perkotaan besar," kata Kedutaan Amerika Serikat dalam pernyataannya seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (21/2).

Dalam pernyataannya, Kedutaan AS menyebutkan ada risiko serangan di Moskow dan Saint Petersburg, serta di daerah-daerah ketegangan yang meningkat di sepanjang perbatasan Rusiadengan Ukraina.

Kedutaan AS mengingatkan warga AS di Rusia untuk "menghindari keramaian" dan "memiliki rencana evakuasi yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah AS".

Selama berminggu-minggu, negara-negara Barat telah memperingatkan bahwa Moskow dapat meluncurkan serangan terhadap Ukraina sewaktu-waktu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengkritik langkah tersebut di media sosial, menanyakan apakah pihak AS telah mengikuti protokol dengan pengumuman tersebut. "Apa yang harus kami lakukan dari ini?" cetusnya.

Kekhawatiran akan potensi invasi Rusia ke Ukraina saat ini meningkat setelah citra satelit terbaru menunjukkan sejumlah pengerahan baru tentara dan peralatan lapis baja dari garnisun-garnisun Rusia ke dekat perbatasan Ukraina. Pengerahan ini disebut mengindikasikan kesiapan militer Rusia yang meningkat.

Seperti dilansir Reuters, Senin (21/2), aktivitas terbaru itu terpantau saat Rusia memperpanjang latihan militer di Belarusia yang seharusnya diakhiri pada Minggu (20/1) waktu setempat. Hal ini semakin meningkatkan kekhawatiran di antara negara-negara Barat soal invasi Rusia ke Ukraina yang semakin dekat.

Perusahaan teknologi yang berkantor di Amerika Serikat (AS), Maxar Technologies, telah melacak pengerahan pasukan Rusia ke dekat perbatasan Ukraina selama berminggu-minggu. Namun citra-citra satelit terbaru yang dirilis Maxar itu belum bisa diverifikasi secara independen oleh Reuters.

"Aktivitas baru ini menunjukkan perubahan dalam pola pengerahan kelompok-kelompok tempur (tank, kendaraan angkut lapis baja, artileri dan peralatan pendukung) yang diamati sebelumnya," sebut Maxar dalam rilisnya pada Minggu (20/2) waktu setempat.

Citra-citra satelit yang dirilis Maxar pada Minggu (20/2) waktu setempat menunjukkan sebagian besar unit tempur dan peralatan pendukung di Soloti telah diberangkatkan. Disebutkan Maxar bahwa jejak kendaraan yang luas dan beberapa konvoi peralatan lapis baja juga terpantau di seluruh area tersebut. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan