Kadensus 88 Cerita Ada Teroris Minta Ditembak Mati Saat Ditangkap

Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri Irjen Marthinus Hukom menegaskan pihaknya selalu mengedepankan hak hidup bagi para teroris. Marthinus mengungkap Densus 88 selalu melakukan pendekatan yang meminimalkan kematian saat menangkap teroris.

"Komitmen kami di penanganan teror itu adalah penghormatan terhadap hak hidup. Kedua, mereka yang ditangkap bukan saja dilihat sebagai tersangka tapi juga korban," kata Marthinus kepada wartawan, Senin (21/3/2022).

"Kalau rekan-rekan lihat pendekatan sekarang kami mencoba untuk meminimalisir kejadian akses dari penangkapan yaitu matinya tersangka," ucapnya.

Namun, kata Marthinus, pendekatan itu sulit dilakukan karena teroris kerap menyerang dengan melempar bom kepada anggotanya. Dia mengatakan hal itu bentuk dari pertahanan para teroris saat ditangkap.

Marthinus lalu bercerita soal teroris yang ingin ditembak mati. Hal itu seperti yang dia rasakan saat menangkap dr Azahari dan Nasir Abbas.

Dia mengatakan rumah menjadi basis pertahanan paling kuat bagi para teroris.

"Ketika kita menangkap dr Azahari kita menangkapnya di rumah. Apa yang terjadi? Dia membalas dengan bom, 12 bom dia lemparkan ke arah kita, itu basis pertahanan, bagaimana dengan yang lain? Yang lain sama, mereka ini kan ingin mati," ujarnya.

"Saya menangkap Nasir Abbas, ketika saya menangkap dia, permintaan dia sambil berantem permintaan dia adalah matikan saya saja, tembak saja. Artinya kita menangkap pada posisi dia paling kuat. Kita menghindari itu, kita cari posisi lemah sehingga akses dari penangkapan yang mematikan tersangka itu tidak terulang," lanjut Marthinus.

Marthinus mengatakan penangkapan yang menyebabkan kontak tembak terbanyak yakni saat di Poso. Dia mengatakan hal itu terpaksa dilakukan karena para teroris memiliki senjata.

"Kita menangkap 370 orang pada 2021 yang mati sangat minim sekali. Yang mati itu terjadi kontak tembak di Poso karena mereka sama-sama memiliki senjata tidak ada pilihan lain kecuali kita terjadi kontak tembak. Itulah risiko ketika menangkap posisi sama-sama kuat," ujarnya.

Di samping itu, Marthinus mengatakan upayanya untuk memposisikan teroris sebagai korban paparan paham radikal. Dia mengatakan Densus 88 menggandeng tokoh agama hingga ormas Islam untuk memberi pendampingan terhadap teroris yang telah ditangkap.

"Nah bagaimana kami memperlakukan sebagai korban? Ya kita mengubah mindset mereka yang tadinya mereka keras karena menerima satu doktrin yang dari satu sisi, kita mencoba mengintervensi mereka dengan melibatkan tokoh-tokoh agama, kami sering kerja sama dengan NU dan Muhammadiyah untuk ikut terlibat mengintervensi (doktrin tunggal) mereka," uajrnya.

Sejauh ini tercatat ada 120 jaringan teroris yang dianggap sebagai korban. Mereka tidak ditangkap tapi dilakukan pembinaan dan tidak akan diproses secara hukum.

"Ada 120 jaringan JI yang kami tidak tangkap tapi kami bina. Setelah kita tahu mereka terlibat dan mereka datang kepada kami, kami bina tanpa proses hukum, artinya upaya kami dari Densus dan BNPT ini kami berupaya untuk memanusiakan mereka. Tidak sekadar menghukum mereka tapi mengubah mindset lebih penting, itu yang sekarang paradigma kami," tuturnya. [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan