Mengupas Data Impor yang Bikin Jokowi Ngomel ke Menteri

Presiden Joko Widodo (Jokowi) jengkel karena banyak instansi pusat yang membeli produk impor dalam rangka pengadaan barang dan jasa. Padahal banyak produk yang bisa dibuat di dalam negeri namun yang dibeli justru produk impor.

Transaksi impor yang dilakukan oleh kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah (pemda) tercatat di data Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

detikcom berfokus kepada barang yang disorot oleh Jokowi, yaitu di sektor kesehatan, pendidikan dan pertanian.

Berdasarkan data LKPP, produk yang paling banyak diimpor pada 2021 adalah fasilitas kesehatan dengan nilai transaksi Rp 13.649.605.110.286, sedangkan nilai transaksi produk lokal adalah Rp 5.795.388.633.129.

Impor alat dan mesin pertanian sektoral menempati posisi keempat dengan nilai transaksi Rp 520.337.279.431, dan transaksi lokalnya Rp 990.475.754.505. Di urutan kelima ada impor peralatan pendidikan dengan nilai transaksi Rp 295.001.357.452, dan nilai transaksi lokalnya jauh lebih rendah, yaitu Rp 2.448.244.000.

Selanjutnya ada peralatan pendidikan sektoral di urutan ke-13 dengan nilai transaksi impor Rp10.878.730.000, sedangkan transaksi lokalnya Rp 181.440.422.717.

Sarana budi daya peternakan dan kesehatan hewan ada di urutan ke-15 dengan nilai transaksi impor Rp 7.433.058.850, dan transaksi lokal Rp 47.607.661.775.

Kemudian di urutan ke-18 ada impor pestisida dan pupuk Rp 4.062.441.000, dan lokal Rp 1.484.362.150.290. Pada urutan ke-23 ada impor obat sektoral Rp 559.721.242, dibandingkan transaksi lokal Rp 842.789.730.

Angka impor yang dirilis oleh BPS adalah impor secara garis besar, tak terpaku pada impor yang dilakukan oleh kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah (pemda).

Berdasarkan data BPS, nilai impor Indonesia pada Februari 2022 mencapai US$16.638,4 juta, turun sebesar US$ 1.572,7 juta atau 8,64% dibandingkan Januari.

Hal itu disebabkan oleh turunnya impor nonmigas sebesar US$ 2.245,8 juta atau 14,05%, walaupun nilai impor migas meningkat US$ 673,1 juta atau 30,19%.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai impor Januari-Februari 2022 mengalami peningkatan US$ 8.254,6 juta atau 31,04%. Peningkatan tersebut disebabkan oleh bertambahnya impor migas US$ 2.275,4 juta atau 79,67% dan nonmigas US$ 5.979,2 juta atau 25,19%.

Nilai impor sepuluh golongan barang nonmigas Indonesia:
1. Mesin/peralatan mekanis dan bagiannya US$ 2,3 miliar
2. Mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya US$ 1,84 miliar
3. Besi dan baja US$ 989 juta
4. Plastik dan barang dari plastik US$ 853 juta
5. Gula dan kembang gula US$ 403 juta
6. Ampas dan sisa industri makanan US$ 304,3 juta
7. Produk farmasi US$ 81,8 juta
8. Bahan bakar mineral US$ 205,1 juta
9. Susu, mentega, dan telur US$ 136,6 juta
10. Bijih logam, terak, dan abu US$ 116,5 juta

Nilai impor nonmigas Indonesia menurut negara asal:
1. Singapura US$ 648,3 juta
2. Thailand US$ 1 miliar
3. Malaysia US$ 442,7 juta
4. Jerman US$ 212,6 juta
5. Belanda US$ 52,8 juta
6. Italia US$ 107 juta
7. Tiongkok US$ 4,6 miliar
8. Jepang US$ 1,1 miliar
9. Amerika Serikat US$ 525,3 juta
10. Korea Selatan US$ 694,7 juta
11. Australia US$ 623,3 juta
12. Taiwan US$ 318,7 juta
13. India US$ 580,7 juta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan