Bareskrim Sebut Kasus Anak Kiai Jombang Tak Ada Kendala, Tinggal Tahap 2

Bareskrim Polri menyebut kasus pelecehan oleh tersangka Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Mas Bechi tidak terdapat kendala. Mas Bechi diketahui merupakan anak pengasuh Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, KH Muhammad Mukhtar Mukthi.

"Sejauh ini penanganan kasus oleh Polda Jatim lancar, tidak ada kendala," kata Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi kepada wartawan, Rabu (6/7/2022).

Andi mengatakan pihaknya terus memonitor kasus ini. Dia menyebut berkas perkara kasus ini telah lengkap, namun belum sampai menempuh tahap kedua.

"Hanya proses tahap dua saja yang belum selesai," katanya.

Lebih lanjut, dia menyerahkan sepenuhnya penyelesaian kasus tersebut Polda Jawa Timur. Adapun Mas Bechi sendiri hingga saat ini belum ditahan.

"Sepenuhnya masih kewenangan Polda Jatim, tersangka juga masih berada di yurisdiksi Polda Jatim," katanya.

Bechi Sudah 6 Bulan Jadi DPO

Seperti diketahui, Mas Bechi sudah lebih dari dua tahun menjadi tersangka pencabulan terhadap santriwatinya. Bahkan dia sudah enam bulan masuk DPO.

Aksi kejar-kejaran bak film laga terjadi dalam penangkapan Bechi. Tim gabungan dari Polda Jatim dan Polres Jombang mengejar 13 mobil yang diduga dinaiki Bechi.

Polisi berhasil menghentikan 11 mobil, tapi ternyata Bechi diduga menaiki satu di antara 2 mobil yang berhasil kabur.

Dari aksi pengejaran yang gagal ini, Ditreskrimum Polda Jatim kemudian melacak posisi Bechi. Ternyata ia berada di Ponpes Majma'al Bachroin Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Desa Losari, Ploso, Jombang.

Polisi pun mencoba mendatangi ponpes ini. Sekitar 200 personel dikerahkan dari Polres Jombang dan Polda Jatim. Bahkan polisi mendapat bantuan personel dari TNI. Penangkapan dipimpin langsung oleh Dirreskrimum Polda Jatim.

Sesampai di sana, proses penangkapan Bechi tak semudah membalikkan telapak tangan. Akhirnya Kapolres Jombang AKBP Moh Nurhidayat harus turun seorang diri. Tanpa pengawalan anak buahnya, Nurhidayat pergi menghadap sang kiai untuk melakukan negosiasi. Dia mengira negosiasi akan dilakukan di dalam ruangan. Namun ternyata dia dihadapkan pada ratusan anggota jemaah.

"Saya pikir negosiasi di ruangan khusus, ternyata saya dihadapkan ke jemaah yang mudah diprovokasi. Sangat rawan sekali, makanya saya tidak berdebat lama," kata Nurhidayat kepada detikJatim, Senin (4/7). [detik.com]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah postingan